RadarBanyuwangi.id - Di tengah kondisi ekonomi yang serba tidak pasti, memiliki dana darurat menjadi kebutuhan penting bagi setiap individu, termasuk generasi muda. Dana darurat berfungsi sebagai cadangan finansial untuk menghadapi situasi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, sakit, kecelakaan, hingga kebutuhan mendesak lainnya.
Namun, realitanya banyak dari kalangan Gen Z masih kesulitan untuk mengumpulkan dana darurat. Gaya hidup konsumtif hingga fenomena FOMO (Fear of Missing Out) menjadi faktor utama yang menghambat kebiasaan menabung sejak dini.
Dana darurat bukan sekadar tabungan biasa. Fungsinya krusial untuk menjaga stabilitas keuangan saat kondisi darurat, menghindari utang mendadak dan memberikan rasa aman secara finansial.
Baca Juga: Motor Baru Pulang Mudik, Cek 8 Hal Ini Sekarang Sebelum Terlambat!
Sayangnya, sifat dana darurat yang tidak langsung terasa manfaatnya membuat banyak Gen Z cenderung menunda untuk mempersiapkannya.
Berikut faktor utama yang menjadi penyebabnya:
1. Tidak Paham Tujuan Finansial
Masih banyak Gen Z yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang.
Kondisi fisik yang masih prima serta keinginan menikmati hidup membuat dana darurat sering dianggap tidak prioritas.
2. Fokus pada Kesenangan Saat Ini
Prinsip “hidup cuma sekali” mendorong sebagian Gen Z untuk lebih fokus pada kesenangan saat ini.
Kebiasaan belanja impulsif dengan dalih self-reward membuat alokasi dana untuk tabungan semakin terabaikan. Selain itu tidak ada target nominal yang jelas dan tidak ada batas waktu menabung. Hal ini membuat kebiasaan menyiapkan dana darurat terus tertunda.
3. Terjebak FOMO (Fear of Missing Out)
Pengaruh media sosial seperti Instagram dan TikTok memperkuat gaya hidup konsumtif. Mulai dari tren fashion terbaru, barang viral maupun kuliner yang muncul di FYP. Semua mendorong Gen Z untuk terus mengikuti tren, sehingga pengeluaran sulit dikendalikan.
Baca Juga: Tanpa Sadar, 5 Kesalahan Pola Asuh Ini Bikin Anak Jadi Suka Berbohong, Nomor 3 Paling Sering Terjadi
4. Lingkungan yang Konsumtif
Lingkungan sekitar, baik di pertemanan, kantor, maupun keluarga, turut membentuk kebiasaan finansial. Jika lingkungan cenderung konsumtif, menabung menjadi hal yang jarang dilakukan, dan gaya hidup boros dianggap normal. Akibatnya, Gen Z semakin sulit membangun kebiasaan menyisihkan uang.
5. Literasi Keuangan Masih Rendah
Kurangnya pemahaman tentang pengelolaan keuangan menjadi faktor krusial. Banyak Gen Z yang belum mengetahui cara memulai dana darurat, jumlah ideal yang harus disiapkan dan strategi mengatur keuangan. Minimnya literasi ini membuat kesiapan finansial belum terbentuk dengan baik.(*)
Editor : Titin WulandariSumber : Jawa Pos