RadarBanyuwangi.id - Banyak orang tua merasa bingung ketika anak mulai berbohong, padahal sudah merasa mendidik dengan baik. Namun faktanya, kebiasaan tersebut tidak selalu berasal dari anak semata. Tanpa disadari, pola asuh yang diterapkan sehari-hari justru bisa membuat anak merasa tidak aman untuk berkata jujur. Akibatnya, berbohong menjadi cara mereka melindungi diri dari hukuman, tekanan, atau kekecewaan orang tua. Memahami hubungan antara pola asuh dan perilaku anak sangat penting. Dengan begitu, orang tua bisa menciptakan lingkungan yang aman dan penuh kepercayaan, sehingga anak lebih terbuka.
Berikut ini 5 kesalahan pola asuh yang membuat anak berbohong pada orang tuanya:
1. Mengatakan “Kalau Jujur, Tidak Akan Dimarahi” Tapi Tidak Konsisten
Banyak orang tua menggunakan kalimat ini untuk mendorong kejujuran. Namun, jika setelah anak berkata jujur justru tetap dimarahi atau dihukum, anak akan belajar bahwa kejujuran itu berisiko.
Akhirnya, anak memilih menyembunyikan kesalahan atau mengarang cerita demi menghindari konsekuensi. Ini bukan karena mereka ingin menipu, tetapi karena ingin merasa aman.
Baca Juga: Anti Gerah! Kenali 6 Keunggulan Rayon Viscose, Bahan Favorit yang Nyaman Dipakai di Cuaca Panas
2. Mengancam dengan “Aku Pasti Tahu Kebenarannya!”
Kalimat ini sering terdengar seperti ancaman bagi anak. Mereka merasa diawasi dan tertekan, sehingga masuk ke mode bertahan.
Alih-alih jujur, anak justru cenderung mengubah cerita, menyalahkan orang lain dan menyembunyikan faktanya bagi anak, kebohongan menjadi cara untuk menghindari hukuman.
3. Mengatakan “Kamu Mengecewakan Aku”
Ucapan ini bisa berdampak besar pada emosi anak. Mereka bisa merasa kasih sayang orang tua bergantung pada perilaku mereka. Akibatnya, anak akan menyembunyikan kesalahan, mengatakan hal yang ingin didengar orang tua dan memperindah cerita. Kebohongan muncul sebagai bentuk perlindungan agar tetap dicintai.
4. Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Kalimat seperti “Lihat anak lain bisa, kamu tidak” bisa memicu rasa rendah diri dan tekanan mental. Anak yang sering dibandingkan cenderung, menutup-nutupi kegagalan, berbohong tentang pencapaian dan mencari alasan agar terlihat “baik”. Ini adalah bentuk pertahanan diri dari rasa malu dan tidak percaya diri.
5. Melarang Keras Anak untuk Berbohong
Larangan yang terlalu keras justru bisa membuat anak semakin takut. Ketika anak merasa takut dihukum, takut dihakimi dan takut kehilangan kasih sayang. Maka kebohongan menjadi “alat aman” untuk bertahan.(*)
Editor : Titin Wulandari