RADARBANYUWANGI.ID – Tradisi halalbihalal di Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, tampil beda.
Warga setempat mengemas momen silaturahmi Lebaran dengan gelaran battle sound berskala besar yang menyedot perhatian ribuan penonton.
Di balik kemeriahan tersebut, tersimpan biaya fantastis. Setiap kelompok peserta rela merogoh kocek mulai Rp 40 juta hingga Rp 80 juta hanya untuk menyewa satu paket sound horeg raksasa.
Kegiatan yang digelar di lapangan desa itu berlangsung selama dua hari dan menjadi agenda rutin tahunan masyarakat setempat. Tradisi ini bahkan sudah berlangsung sejak sekitar tahun 1990-an.
Awalnya, sound horeg hanya digunakan dalam kegiatan takbir keliling. Namun, seiring perkembangan waktu, ajang adu kualitas suara tersebut berevolusi menjadi bagian dari perayaan halalbihalal warga.
Kini, battle sound tak sekadar adu kerasnya suara subwoofer. Lebih dari itu, ajang ini menjadi arena unjuk kualitas dan prestise antar kelompok, bahkan menjadi tolok ukur popularitas sound system di kalangan penggemar audio.
Kepala Desa Sumbersewu, Wastono, mengatakan bahwa pada gelaran tahun ini rata-rata anggaran yang dikeluarkan kelompok berada di kisaran Rp 40 juta hingga Rp 50 juta.
Hal itu karena banyak kelompok telah memiliki relasi dengan penyedia sound sejak tahun-tahun sebelumnya.
“Banyak yang dapat harga lebih murah karena sudah berlangganan. Bahkan ada pemilik sound yang justru ingin tampil di sini,” ujarnya.
Meski biaya yang dikeluarkan cukup besar, dampak ekonomi yang ditimbulkan juga signifikan.
Kegiatan ini mampu menggerakkan roda perekonomian warga, mulai dari penyedia lahan parkir hingga pelaku UMKM.
“Paguyuban UMKM semua terlibat, bahkan ada yang datang dari luar daerah seperti Jember,” tambah Wastono.
Salah satu warga, Prasetyo, 27, mengungkapkan bahwa peserta battle sound biasanya berasal dari kelompok masyarakat tingkat RT atau jemaah masjid.
Para pemuda secara gotong royong mengumpulkan dana untuk menyewa sound horeg.
“Iuran per orang berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta, tergantung jumlah anggota kelompok,” jelasnya.
Ia menambahkan, semakin banyak anggota kelompok, maka beban iuran yang ditanggung per orang akan semakin ringan.
Warga lainnya, Ardiansyah, menyebut ada pula kelompok yang tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk menyewa sound.
Hal itu karena ada pemilik sound horeg yang ingin mempromosikan kualitas perangkatnya dengan tampil di event tersebut.
“Kalau ada yang menyumbang sound, biasanya kelompok hanya membayar operasional dan kru,” katanya.
Ketua panitia, Zainal Abidin, menyampaikan bahwa pada tahun ini terdapat sekitar 45 kelompok yang berpartisipasi.
Sound horeg yang tampil tidak hanya berasal dari Banyuwangi, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Timur hingga Jawa Tengah.
“Peserta tidak hanya dari Muncar, tetapi juga dari kecamatan lain seperti Srono dan Bangorejo,” ujarnya.
Menurut Zainal, battle sound di Sumbersewu bahkan sudah dikenal luas dan kerap disebut sebagai ajang berskala nasional.
Hal itu terlihat dari antusiasme penonton yang datang dari berbagai daerah, seperti Jember hingga Malang.
Dengan kemasan unik yang memadukan tradisi dan hiburan modern, battle sound Sumbersewu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga magnet wisata baru yang mampu menggerakkan ekonomi lokal secara signifikan. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin