RADARBANYUWANGI.ID - Bulan Ramadhan merupakan tamu agung yang selalu dinantikan kehadirannya oleh umat Islam di seluruh dunia. Setiap tahunnya, bulan penuh ampunan dan keberkahan ini hadir sebagai momentum berharga untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta mempererat hubungan dengan Allah SWT.
Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183, ibadah puasa diwajibkan agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa. Oleh karena itu, menyambut Ramadhan tidak semestinya dilakukan secara biasa-biasa saja.
Banyak orang sibuk mempersiapkan kebutuhan fisik seperti menu sahur dan berbuka atau stok bahan makanan. Namun, tidak sedikit yang lupa bahwa persiapan spiritual justru jauh lebih utama. Tanpa kesiapan mental dan rohani, Ramadhan bisa berlalu tanpa meninggalkan perubahan berarti dalam diri.
Padahal, Ramadhan adalah kesempatan emas yang belum tentu dapat dijumpai kembali di tahun berikutnya. Mempersiapkan diri sejak dini berarti menata niat, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta membiasakan diri dengan amalan-amalan sunnah agar ibadah berjalan lebih ringan, khusyuk, dan bermakna.
Seperti dirangkum dari NU Online, inilah enam sikap dan persiapan penting yang dicontohkan para ulama saleh terdahulu dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
1. Menyambut Ramadhan dengan Rasa Gembira
Para ulama dan orang-orang saleh terdahulu menyambut Ramadhan dengan suka cita dan penuh harap. Yahya bin Abi Katsir meriwayatkan bahwa generasi salaf senantiasa memanjatkan doa:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami hingga bertemu bulan Ramadhan.”
Doa ini menunjukkan kerinduan mereka agar diberi umur panjang dan kesehatan untuk meraih keutamaan Ramadhan secara sempurna.
2. Kembali Memahami Hakikat Ramadhan
Puasa Ramadhan merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim. Agar ibadah ini sah dan sempurna, umat Islam wajib memahami ketentuan serta hukum-hukum yang berkaitan dengannya.
Ilmu tentang fiqih puasa, seperti hal-hal yang membatalkan puasa dan syarat sahnya, menjadi pengetahuan dasar yang harus dipelajari. Pemahaman yang benar akan menghindarkan seseorang dari kesalahan yang dapat merusak bahkan menggugurkan pahala puasa.
3. Menyambut dengan Doa dan Harapan
Ramadhan adalah bulan karunia sekaligus bulan ujian. Di dalamnya terdapat tantangan untuk menahan hawa nafsu, meningkatkan kualitas ibadah, serta menggapai kemuliaan malam Lailatul Qadar.
Karena keterbatasan manusia, doa menjadi bekal utama agar mampu menjalani Ramadhan dengan penuh keikhlasan dan optimisme. Dengan doa, seorang Muslim memohon kekuatan agar tetap istiqamah dalam kebaikan hingga akhir bulan suci.
Baca Juga: Terungkap! Hukum Tabur Bunga Saat Ziarah Kubur Jelang Ramadhan 2026 Menurut Buya Yahya
4. Menyusun Perencanaan Ibadah
Orang-orang saleh terdahulu tidak memasuki Ramadhan tanpa perencanaan. Mereka menyiapkan target ibadah secara matang, seperti berapa kali mengkhatamkan Al-Qur’an, seberapa rutin shalat malam, jumlah sedekah yang akan dikeluarkan, serta seberapa sering mengikuti majelis ilmu.
Perencanaan ini bukan sekadar mengatur menu berbuka atau pakaian lebaran, melainkan strategi untuk meningkatkan kualitas ibadah agar Ramadhan benar-benar terisi dengan amal saleh.
5. Mempersiapkan Ruh dan Jasad
Rasulullah SAW dan para sahabat tidak menyia-nyiakan keutamaan Ramadhan. Mereka memperbanyak puasa dan sedekah di bulan Sya’ban sebagai latihan sekaligus tanda kegembiraan menyambut Ramadhan.
Anas bin Malik RA menuturkan bahwa ketika memasuki bulan Sya’ban, kaum Muslimin sibuk membaca Al-Qur’an dan mengeluarkan zakat untuk membantu fakir miskin yang berpuasa. Dengan membiasakan diri beribadah sejak sebelum Ramadhan, kondisi spiritual meningkat dan tubuh menjadi lebih siap menjalani puasa.
6. Menyiapkan Bekal Materi untuk Ibadah
Selain kesiapan rohani, persiapan finansial juga perlu diperhatikan. Namun, bukan untuk memenuhi kebutuhan berbuka secara berlebihan, melainkan untuk menunjang ibadah sedekah dan infak.
Ramadhan dikenal sebagai bulan muwaasah atau bulan kepedulian sosial. Memberi santunan kepada sesama sangat dianjurkan, meskipun hanya berupa sebutir kurma atau seteguk air. Setiap bentuk kebaikan kepada orang yang berpuasa akan diganjar pahala yang besar di sisi Allah SWT.
Dengan persiapan yang matang, Ramadhan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi momentum perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa. Melalui niat yang lurus, perencanaan yang tepat, serta kesungguhan dalam beribadah, Ramadhan tahun ini dapat menjadi titik balik terbaik dalam perjalanan hidup dan keimanan.(*)
Editor : Niklaas Andries