RADARBANYUWANGI.ID - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak umat Islam mulai bertanya tentang cara terbaik mempersiapkan diri. Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan yang datang lalu pergi, melainkan momentum besar untuk memperbaiki diri, baik secara lahir maupun batin. Lalu, apa yang sebenarnya paling penting dipersiapkan untuk menyambut bulan penuh berkah ini?
Menanggapi hal tersebut, Buya Yahya menegaskan bahwa persiapan utama Ramadhan bukan hanya soal memperbanyak aktivitas fisik seperti puasa, salat, atau membaca Al-Qur’an. Menurutnya, yang harus dibenahi pertama kali justru adalah amal batin.
“Yang paling awal dikoreksi adalah hati kita,” ujar Buya Yahya dalam salah satu kajiannya. Ia mengajak umat Islam untuk mengintrospeksi diri, apakah benar-benar merindukan Ramadhan, atau hanya menganggapnya sebagai bulan biasa yang datang setiap tahun.
Ia menekankan pentingnya mengukur rasa rindu terhadap Ramadhan. Apakah bulan suci dipandang sebagai momen agung penuh kemuliaan dan peluang pahala, atau sekadar rutinitas yang dijalani tanpa makna mendalam.
Selain hati, pikiran juga perlu dipersiapkan. Umat Islam diajak untuk memahami keutamaan Ramadhan, hikmahnya, serta kesempatan besar yang terkandung di dalamnya. Dengan pemahaman yang benar, seseorang akan lebih siap menjalani ibadah secara maksimal.
Menumbuhkan Kerinduan yang Tulus
Lebih lanjut, pendakwah asal Blitar itu menegaskan bahwa fondasi utama menyambut Ramadhan adalah kerinduan yang tulus. Kerinduan ini tidak cukup hanya diucapkan melalui kalimat “Marhaban ya Ramadhan”, tetapi harus diwujudkan dalam kesungguhan menjalankan ibadah. “Memuliakan Ramadhan bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan memenuhi hak-haknya,” jelasnya.
Hak Ramadhan mencakup puasa yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, salat tarawih, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kualitas ibadah sehari-hari. Jika rasa rindu sudah tumbuh dalam hati, maka ibadah akan terasa lebih ringan dan penuh makna.
Analogi Tamu Istimewa
Buya Yahya juga memberikan perumpamaan sederhana namun menyentuh. Ia mengibaratkan Ramadhan seperti tamu istimewa yang datang ke rumah.
Jika seseorang hanya menyambut tamu dengan ucapan selamat datang tanpa menyiapkan tempat duduk, hidangan, atau sambutan yang layak, maka itu bukan bentuk penghormatan yang sebenarnya.
Begitu pula dengan Ramadhan. Jika hanya disambut dengan ucapan dan unggahan di media sosial, tanpa persiapan ibadah, maka penghormatan itu menjadi hampa. “Mana puasanya, mana tarawihnya, mana Al-Qur’annya?” tegasnya. Tanpa persiapan yang nyata, Ramadhan hanya akan berlalu sebagai rutinitas, bukan sebagai momen perubahan diri.
Jangan Jadikan Ramadhan Sekadar Konten
Buya Yahya juga menyoroti fenomena Ramadhan yang kerap dijadikan ajang eksistensi di media sosial. Banyak orang sibuk membuat konten bertema Ramadhan, namun justru lalai memaksimalkan ibadah.“Jangan sampai Ramadhan hanya jadi bahan konten,” pesannya.
Menurutnya, bulan suci bukan untuk mengejar popularitas, menambah pengikut, atau sekadar citra religius. Ramadhan seharusnya menjadi waktu refleksi, perbaikan diri, dan persiapan menuju kehidupan akhirat yang lebih baik.
Susun Rencana Ibadah Sejak Dini
Setelah menanamkan kerinduan dalam hati, langkah berikutnya adalah menyusun perencanaan ibadah. Buya Yahya menganjurkan agar umat Islam menyiapkan agenda Ramadhan sejak sebelum bulan suci tiba.
Beberapa hal yang bisa direncanakan antara lain:
- Menentukan target salat tarawih dan menjaga konsistensinya.
- Menyusun jadwal tilawah Al-Qur’an agar bisa khatam.
- Mengatur waktu untuk zikir, doa, dan sedekah.
- Merancang kegiatan keagamaan yang bermanfaat.
Dengan perencanaan yang jelas, ibadah selama Ramadhan akan lebih terarah dan tidak berjalan asal-asalan.“Buat jadwal yang baik, lalu jalankan dengan sungguh-sungguh,” pesannya.
Menuju Kemenangan yang Hakiki
Buya Yahya menjelaskan bahwa orang yang mempersiapkan Ramadhan dengan baik, baik secara batin maupun lahir, berpeluang meraih kemenangan sejati.
Kemenangan tersebut bukan hanya perayaan Idulfitri, melainkan kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dalam keadaan diampuni dan diberkahi. Inilah makna hakiki dari “Minal Aidin wal Faizin”, yaitu kembali dalam keadaan bersih dari dosa dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Ia menegaskan bahwa Ramadhan bukanlah sarana mengejar dunia, melainkan jembatan menuju kebahagiaan akhirat. “Jadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan,” tuturnya.
Pesan untuk Umat Islam
Pesan Buya Yahya menjadi pengingat penting agar umat Islam tidak menyia-nyiakan bulan suci yang hanya hadir setahun sekali. Persiapan Ramadhan bukan hanya soal fisik dan jadwal, tetapi juga membersihkan hati, meluruskan niat, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Dengan hati yang rindu, pikiran yang sadar, dan amal yang terencana, Ramadhan tidak akan sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan bulan penuh makna yang membawa perubahan nyata dalam kehidupan.(*)
Editor : Niklaas Andries