Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Romantis! Cinta Lintas Negara Indra dan Nanako Berakhir di Pelaminan Adat Oseng Banyuwangi

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Minggu, 26 Oktober 2025 | 12:45 WIB
BIKIN HEBOH: Mengenakan baju adat khas Oseng, pasangan Indra Nur Cahya dan Nanako Kobayashi diarak keliling kampung menggunakan kereta hias, Jumat (24/10).
BIKIN HEBOH: Mengenakan baju adat khas Oseng, pasangan Indra Nur Cahya dan Nanako Kobayashi diarak keliling kampung menggunakan kereta hias, Jumat (24/10).

RADARBANYUWANGI.ID - Meski baru setahun saling kenal, Indra Nur Cahya dan Nanako Kobayashi akhirnya memutuskan membangun rumah tangga dengan gadis pujaannya asal Negeri Sakura.

Jalinan cinta keduanya berlanjut ke pelaminan pada Jumat (24/10) di rumah Indra, Desa Kemiren. Dua bulan sebelumnya, Nanako resmi memeluk agama Islam alias mualaf.   

Suasana Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Jumat sore (24/10) terasa berbeda dari hari biasanya.  Ratusan warga tumpah ruah ke jalan untuk menyaksikan momen langka  pernikahan dengan adat Oseng antara pemuda asli Kemiren, Indra Nur Cahya, dengan perempuan asal Jepang, Nanako Kobayashi.

Seorang pemuda Oseng dan perempuan asal Jepang mengikat janji suci di Desa Kemiren,Kecamatan Glagah, Jumat (24/10). Indra Nur Cahya dan Nanako Kobayashi menjadi simbol pertemuan dua budaya yang berbeda.

Pernikahan mereka, yang digelar dengan adat khas Oseng, menyulut rasa ingin tahu para warga setempat yang berdesakan ingin menyaksikan momen langka pernikahan pemuda asli Kemiren dengan gadis pujaannya asal Jepang.

Maskawin 10 Ribu Yen

Suara gamelan Oseng berpadu dengan teriakan anak-anak dan sorak bahagia warga. Desa adat yang selama ini dikenal dengan tradisi leluhur yang kuat itu seakan menjadi saksi sejarah menyatunya dua insan dari dua dunia yang berbeda, Banyuwangi dan Jepang, dalam ikatan suci pernikahan yang diwarnai adat Oseng yang kental.

Akad nikah keduanya dilakukan pada pagi hari dengan mahar sederhana berupa seperangkat alat salat, uang Rp 100.000, serta 10 ribu yen Jepang menjadi tanda penyatuan dua budaya.

Sekitar pukul 16.30, setelah prosesi akad selesai, kemeriahan pun dimulai. Indra dan Nanako menaiki kereta kencana yang ditarik oleh kuda, berkeliling menyusuri jalan desa.

Di belakang mereka, barisan pemain barong Kemiren menari dengan pitik-pitikan, disusul oleh kelompok kuntulan yang memainkan rebana dan alat musik terbang.

Pemandangan itu menjadi tontonan langka. Warga berbondong-bondong keluar rumah, memenuhi jalan untuk sekadar melambaikan tangan atau mengabadikan momen dengan ponsel.

“Saya penasaran sekali. Baru kali ini lihat orang Jepang menikah dengan adat Oseng. Ramai sekali dari dari tadi di sini orang-orang nunggu arak-arakan lewat,” ujar Wahyu, warga Desa Paspan.

Yang membuat suasana makin istimewa, kedua orang tua Nanako dan dua saudara perempuannya datang ke Kemiren. Mereka duduk di kereta hias di belakang mempelai, sambil sesekali melambaikan tangan ke warga yang menonton.

Ritual Injak Telur

Setelah keliling desa, pasangan pengantin tiba kembali di lokasi acara. Sebelum naik ke pelaminan, Nanako menjalani ritual injak telur, sebuah tradisi Oseng yang melambangkan kesucian dan kesiapan seorang perempuan memasuki kehidupan rumah tangga.

Prosesi dilanjutkan dengan tradisi Ngosek Ponjen, sebuah seremoni adat yang dilakukan oleh orang tua mempelai pria. Tradisi ini bermakna sebagai ungkapan perpisahan dan restu dari orang tua kepada anak bungsu yang akan memulai kehidupan baru.

Orang tua mempelai laki-laki, Nur Slamet, mengaku bahagia atas pernikahan anaknya yang menikah dengan wanita Jepang asli.

“Tentu saya sangat bahagia dengan pernikahan anak saya yang menikah dengan orang Jepang yang menjadi jodohnya, serta semua pernikahan dilakukan dengan adat Osing dari awal sampai akhir tadi,” ujarnya.

Ia mengatakan, setelah menikah, anak dan menantunya yang berasal dari Jepang akan berada di Banyuwangi sebagai tempat tinggal mereka untuk mengarungi bahtera rumahtangga.  

“Anak saya sudah setahun  menjalin hubungan dengan Nanako yang merupakan orang Jepang. Akhirnya hubungan mereka mulai serius dan bisa melangsungkan pernikahan hari ini (24/10),” tambahnya.

Satukan Dua Kultur Berbeda

Nur Slamet menjelaskan, sebelum menikah, Nanako yang merupakan menantunya telah menjadi mualaf sejak dua  bulan sebelum melangsungkan pernikahanan dengan Indra.

“Dua bulan lalu Nanako memutuskan untuk masuk Islam dan mendapat nama Ratna Dewi Sari sebelum melangsungkan pernikahannya,” jelasnya.

Sebagai orang tua, Nur Slamet berharap rumah tangga anaknya bisa langgeng dan menjadi keluarga yang sakinah untuk selamanya.

“Saya berharap pernikahan anak saya bisa langgeng dan semakin dewasa, karena keduanya memiliki kultur yang berbeda. Satunya dari Banyuwangi dan yang perempuan dari Jepang,” ujarnya.

Salah satu kerabat Indra yang ikut hadir sebagai penerima tamu juga mengungkapkan,  keduanya pertama kali bertemu di Banyuwangi.

 “Indra kenal dengan Nanako di Banyuwangi. Indra sebelumnya memiliki kafe di daerah sini (Kemiren). Mungkin dari situ mereka saling mengenal,” tuturnya. (M Ksatria Raya/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#pernikahan adat #jepang #oseng #kemiren #banyuwangi