RADARBANYUWANGI.ID - Pernah ga sih kamu kepikiran? Parfum yang biasa kita pakai sehari hari, siapa ya penciptanya? Gimana perjalanannya sampai jadi parfum dengan kemasan sebagus itu?
Karena ternyata ada fakta menarik dibalik panjangnya perjalanan terciptanya parfum loh. Supaya ga penasaran yuk kita bahas, sejarah parfum.
Parfum berasal dari bahasa latin “per fumum” yang artinya melalui asap. Dahulu nenek moyang kita memebakar bahan bahan aromatik alami dalam rangkaian ritual pemujaan. Salah satunya seperti kayu cendana, damar, dan bunga kering.
Konon katanya nenek moyang percaya asap hasil pembakaran yang naik ke udara adalah persembahan untuk para dewa. Awal mula seni wewangian dimulai pada abad Mesir kuno sekitar 3000 SM.
Dalam catatan kuno, masyarakat mesir biasa menggunakan dupa dan minyak aromaterapi untuk membersihkan kuil, mayat dan tubuh para bangsawan.
Sebagai pendukung teori di atas ada penemuan parfum tertua beraroma lavender dan rosemary yang sudah ada sejak 4000 tahun lalu yang berasal dari Pyrgos dan Siprus.
Ratu kebanggaan Mesir, Cleo Patra dikenal sebagai simbol wangi sejati. Ia menciptakan wewangian dari campuran mawar, kemenyan, dan madu untuk menarik perhatian Julius Caesar dan Mark Antony.
Fun factnya sangking cintanya sang ratu dengan wewangian, layar kapalnya pun ia semprotkan parfum sehingga wanginya dapat tercium dari kejauhan.
Sekitar abad ke -8 kebiasaan menggunakan parfum ini lama kelamaan mulai menyebar ke budaya Yunani dan Romawi. Karena orang Yunani yang mencatat teknik pembuatan parfum, hingga tercipatalah saat itu buku pertama tentang botani dan aroma.
Buku karya Theophrastus murid Aristoteles ini berjudul On Odours. Namun penggunaan parfum di era ini sudah sedikit berbeda. Tidak seperti Mesir yang penggunaannya untuk penyucian dan kebersihan, bagi orang Yunani parfum adalah aroma keselarasan batin.
Sedang bagi Romawi parfum merupakan simbol dari kemakmuran dan kemewahan. Orang orang Romawi banyak menaburkan parfum pada air mandi, bantal, sampai dinding rumah.
Setelah runtuhnya kekaisaran Romawi, bangsa Eropa tidak lagi mengenakan parfum karena anggapan terlalu berlebihan. Bahkan sampai muncul gagasan penggunaan parfum saat itu berdosa.
Sementara itu budaya parfum beralih di kawasan Timur seperti Arab dan Persia. Mereka menyempurnakan teknik dilatasi yaitu mengekstrak minyak atsiri dari bunga dan rempah.
Masuk masa Renaisans parfum kembali memiliki ruang di Eropa. Terutama Pranciss tepatnya di kota Grasse yang disebut sebut sebagai ibu kota parfum dunia.
Dari perdagangan antar kawasan dan negara parfum semakin menyebar ke seluruh wilayah. Di dukung dengan adanya perkembangan teknologi, yang terus berubah terciptalah parfum seperti yang kita kenal saat ini.
Menarik bukan? Setelah tau sejarahnya, jangan sampai buang buang parfum ya karena satu tetes parfum punya ribuan tahun sejarah.
Penulis : Sabrina Khairunisa | Program magang jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin