RADARBANYUWANGI.ID - Keindahan batik Banyuwangi kembali ditampilkan di panggung terhormat Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2025. Kali ini, motif yang diangkat adalah Wader Kesit, satu dari belasan motif lawas batik Bumi Blambangan. Ajang ini merupakan salah satu rangkaian Banyuwangi Festival (B-fest) 2025.
Event BBF rutin digelar sejak 2013 lalu. Pada penyelenggaraan tahun ini, BBF dilangsungkan di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan Sabtu Malam (18/10). Puluhan busana hasil kreativitas pelaku batik di kabupaten the Sunrise of Java ditampilkan. Tidak hanya itu, pelaku UMKM batik juga turut ambil bagian dalam event yang berlangsung sejak Jumat (17/10) tersebut.
BBF kali ini menampilkan sebanyak 60 busana batik yang merupakan kolaborasi dari 15 desainer busana dan pembatik lokal. Motif “Wader Kesit” tampil memikat di panggung, membawa semangat kolaborasi antara desainer, perajin, dan industri.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, BBF bukan sekadar peragaan busana, event ini dirancang dengan tujuan yang lebih besar. “BBF adalah penali yang menghubungkan para perajin batik dengan industri. Event ini sebagai simbol semangat kolaborasi demi mengangkat wastra (kain tradisional yang memiliki makna dan simbol tersendiri, Red) Banyuwangi ke panggung nasional,” ujarnya.
Setiap tahun BFF digelar dengan mengangkat tema motif batik lokal sebagai upaya untuk terus melestarikan motif-motif lawas khas kabupaten ujung timur Pulau Jawa. Kali ini mengangkat motif “Wader Kesit”. Wader adalah jenis ikan yang banyak ditemui di sungai. Motif ini memiliki filosofi warga Banyuwangi yang adaptif dalam menghadapi kehidupan yang dinamis dan keberanian menghadapi tantangan.
Bupati Ipuk juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telahy mendukung BFF. “Kami juga ingin berterima kasih kepada Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember atas kolaborasi BBF dengan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) guna memperkuat literasi finansial pada industri Batik Banyuwangi,” imbuh Ipuk.
Sementara itu, puluhan desain busana batik “Wader Kesit” malam itu tampil memesona dalam balutan busana model elegan hingga sporty. Busana-busana itu didesain ready to wear secara apik dan berkualitas dengan pemilihan warna-warna kain yang beragam mulai dari earth tone seperti krem, cokelat muda, terakota, hingga warna-warna cerah seperti merah, kuning, biru, dan jingga.
Salah satu pelaku Batik yang menjadi peserta BBF adalah Samsudin dari IKM Batik Banjarwangi. Menurutnya, BBF menjadi bagian penting dalam perkembangan usaha batik dan membuat ekosistem industri batik Banyuwangi terus berkelanjutan. “Event BBF yang digelar setiap tahun membuat industri batik terus bergeliat dari hulu ke hilir. Mulai produksi sampai pemasaran menjadi terus bergairah,” ujarnya.
Siti Romelah dari IKM Batik My Isoen yang menjadi peserta sejak 2013 mengatakan, event BBF terbukti sukses menjadi ajang promosi sekaligus pelestarian motif-motif batik yang dimiliki oleh Banyuwangi. “Ada sekitar 60 motif batik Banyuwangi yang mungkin belum semua publik tahu. BBF adalah sarana mengenalkan motif-motif tersebut. Setiap motif yang diangkat dalam BBF terbukti sukses menjadi trendsetter motif batik Banyuwangi yang banyak dicari setiap tahun,” pungkasnya. (sgt)
Editor : Sigit Hariyadi