RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena unik terjadi dalam sesi bimbingan perkawinan (bimwin) di sejumlah Kantor Urusan Agama (KUA).
Yel-yel interaktif bernama “Tepuk Sakinah” viral di media sosial dan langsung menarik perhatian publik.
Biasanya, bimwin berlangsung dengan suasana serius.
Namun, kali ini para penghulu menyisipkan permainan edukatif berupa tepukan tangan dan lagu sederhana agar calon pengantin lebih mudah memahami nilai-nilai keluarga sakinah.
Baca Juga: Bansos PKH-BPNT Tahap 4 2025 Segera Cair, Penerima 5 Tahun Otomatis Gugur
Awal Mula Tepuk Sakinah
Penghulu KUA Menteng, Jakarta Pusat, Abdul Hakim, menjelaskan bahwa ide Tepuk Sakinah lahir dari pelatihan penghulu dan penyuluh agama pada 2024.
Dari forum itu, muncul gagasan membuat yel-yel untuk membantu calon pengantin menghafal lima pilar keluarga sakinah.
“Tadinya hanya tepuk biasa. Lalu ditambah aransemen lagu supaya lebih mudah diingat, akhirnya viral,” kata Abdul.
Baca Juga: 12 Juta Data Penerima Bansos PKH-BPNT Disisir, Kemensos Temukan Ribuan Bermain Game Online!
Pilar dalam Tepuk Sakinah
Lima pilar keluarga sakinah yang diajarkan lewat Tepuk Sakinah yaitu:
-
Zawaj – berpasangan.
-
Mitsaqan Ghalizan – janji kokoh dalam pernikahan.
-
Mu’asyarah Bil Ma’ruf – saling cinta, hormat, menjaga, dan berbuat baik.
-
Musyawarah – menyelesaikan masalah bersama.
-
Taradhin – saling ridha dan menerima kekurangan pasangan.
Baca Juga: Cek Penerima BSU 2025 Lewat Aplikasi JMO, Begini Cara Login dan Daftarnya
Gerakan dalam tepuk ini memiliki makna tersendiri.
Misalnya, dua telunjuk yang saling menunjuk menggambarkan berpasangan, jari saling mengunci melambangkan janji kokoh, hingga tanda hati dan hormat sebagai simbol saling cinta dan saling menjaga.
Tujuan dan Respons Peserta
Kepala KUA Tambun Selatan, Agus Salim, menegaskan bahwa Tepuk Sakinah hanyalah ice breaking agar suasana bimbingan lebih segar.
“Tujuannya supaya calon pengantin mudah mengingat pilar keluarga sakinah,” ujarnya.
Respons peserta pun beragam. Riko (23), salah satu calon pengantin, menilai Tepuk Sakinah membantu menjaga pikiran positif.
“Cukup bagus untuk meredakan emosi dan tetap berpikir positif dalam membangun rumah tangga,” katanya.
Namun, Dhika (30), calon pengantin lain, menilai sebaliknya.
“Maknanya bagus, tapi bentuknya seperti bermain-main. Menurut saya lebih baik diperkuat dengan nasihat orang tua atau pengalaman,” ujarnya.
Pesan Moral
Terlepas dari pro dan kontra, penghulu menekankan pesan utama Tepuk Sakinah: pernikahan adalah ikatan suci yang dibangun atas dasar cinta, musyawarah, dan saling ridha.
Gerakan interaktif ini diharapkan menjadi pengingat bagi calon pengantin agar siap menghadapi pasang surut rumah tangga. (*)
Editor : Ali Sodiqin