RADARBANYUWANGI.ID - Media sosial belakangan diramaikan tren kreatif foto ala kotak mainan Bandai.
Dengan bantuan teknologi AI-generated art, banyak warganet mengubah potret pribadi menjadi seolah-olah kemasan figur koleksi ikonik buatan raksasa mainan asal Jepang itu.
Baca Juga: Kalender 2026 Resmi Dirilis! Ada 17 Hari Libur Nasional, 8 Cuti Bersama, dan 9 Long Weekend Panjang
Desainnya dibuat semirip mungkin dengan kemasan resmi, lengkap dengan kotak, warna, hingga logo khas Bandai.
Namun, keseruan ini mulai memunculkan dilema baru. BANDAI NAMCO baru saja mengeluarkan peringatan resmi terkait penyebaran gambar palsu yang menampilkan logo “BANDAI” dan “BANDAI SPIRITS” secara tidak sah.
Baca Juga: Resmi! Gaji ASN, TNI/Polri, dan Pejabat Negara Bakal Naik Lagi di 2025, Ini Bocoran Besarannya
Peringatan Bandai
Langkah ini diambil setelah semakin banyak pertanyaan dari penggemar, apalagi setelah akun resmi Google Gemini App di platform X ikut mengunggah foto bergaya Bandai.
Dalam unggahan itu, tampak figur mainan dalam kotak dengan logo merah persegi dan tulisan putih yang mirip logo asli, meski teksnya berbeda. Kemiripan desain membuat publik mudah terkecoh seolah itu produk resmi.
Bandai menegaskan, mereka tidak melarang AI art, tetapi siapa pun yang mengunggah gambar semacam itu diminta “sangat berhati-hati”.
Baca Juga: Menyusuri Rowo Bayu, Perpaduan Alam, Sejarah, dan Misteri di Banyuwangi
Jika foto AI menimbulkan kesan produk resmi, hal itu bisa dianggap pelanggaran hak cipta dan bahkan berpotensi digunakan untuk penipuan.
Konsumen Diminta Waspada
Perusahaan juga mengimbau masyarakat agar selalu memeriksa keaslian produk melalui situs resmi sebelum membeli.
“Kehati-hatian publik adalah kunci untuk menghindari jebakan barang palsu,” tulis pernyataan Bandai.
Baca Juga: Tren Foto AI 'Ketemu Diri Kecil' Bikin Netizen Baper, Potret Masa Lalu & Kini Jadi Satu Frame
Antara Kreativitas dan Risiko
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana ledakan teknologi AI membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, AI membuka ruang berekspresi kreatif dan hiburan.
Namun di sisi lain, muncul risiko penyalahgunaan yang bisa merugikan konsumen sekaligus mencederai reputasi merek besar.
Viralnya tren foto kotak mainan ala Bandai menunjukkan bahwa batas antara seni digital dan hak cipta kian tipis, menuntut kesadaran etika digital dari para kreator maupun pengguna media sosial. (*)
Editor : Ali Sodiqin