RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena bendera One Piece berkibar di tengah aksi protes dunia beberapa bulan terakhir memunculkan pertanyaan besar.
Mengapa simbol fiksi bajak laut ini begitu lekat dengan perlawanan terhadap penguasa?
Di Indonesia, Nepal, hingga negara-negara Eropa, generasi muda menjadikan tengkorak dengan topi jerami sebagai bendera perlawanan.
Dari jalanan Jakarta sampai Kathmandu, Jolly Roger ala Luffy menjadi ikon baru anti-tirani.
Kisah dalam One Piece sendiri sarat dengan narasi perlawanan. Monkey D. Luffy dan kru Straw Hat Pirates bukan sekadar bajak laut yang berburu harta, melainkan pahlawan yang berulang kali melawan penindasan, korupsi, dan dominasi “World Government”.
Mereka melawan sistem global yang otoriter, di mana kebenaran informasi dikendalikan, sejarah dimanipulasi, dan rakyat dipaksa tunduk.
Tak sedikit yang melihat kisah ini sebagai cermin kenyataan. Dunia nyata juga dipenuhi struktur kekuasaan yang sering menutup akses terhadap kebenaran, membungkam kritik, dan mengontrol narasi publik.
Di titik inilah, simbol One Piece menemukan relevansinya. Para demonstran mengibarkan bendera bajak laut bukan sekadar karena tren anime, tetapi sebagai pernyataan: mereka menolak tunduk pada sistem yang menindas.
Dalam konteks ini, teori Ustadz Felix Siauw juga menemukan momentumnya. Ia pernah menyatakan, “One Piece itu seolah-olah ngasih tahu ada satu yang lebih penting dari semua hal yang benar-benar ditakuti oleh orang-orang jahat dan diharapkan oleh orang baik yaitu kebenaran informasi.
Kutipan ini menguatkan teori bahwa One Piece bisa dibaca sebagai alegori anti-tirani.
Harta karun One Piece adalah simbol kebenaran, sedangkan penguasa dunia yang berusaha mencegah Luffy dan krunya mencapainya adalah cermin dari rezim tirani yang berusaha menutup akses informasi.
Analogi ini bukan berarti Eiichiro Oda menulis One Piece dengan landasan Al-Qur’an, melainkan bahwa nilai universal dalam fiksi mampu beresonansi dengan realitas sosial dan spiritual manusia.
Fenomena bendera One Piece dalam demonstrasi dunia adalah bukti nyata bahwa pop culture bisa menjadi bahasa baru perlawanan.
Seperti halnya topeng Guy Fawkes dalam film V for Vendetta yang mewakili semangat anti-korupsi global, kini bendera bajak laut Straw Hat menjadi simbol generasi muda untuk melawan tirani.
Kisah fiksi dan dunia nyata saling bertaut, menunjukkan bahwa kadang kebenaran bisa disuarakan melalui medium yang tak terduga.
Editor : Agung Sedana