RADARBANYUWANGI.ID - Media sosial tengah diramaikan fenomena unik: foto AI di depan Ka’bah menggunakan Google Gemini.
Editan ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan jadi bentuk doa visual bagi banyak orang.
Banyak pengguna mengaku, hasil foto terasa begitu nyata hingga menghadirkan getaran emosional, seolah-olah mereka benar-benar berada di Masjidil Haram.
Ada yang menyebutnya cara baru untuk melampiaskan kerinduan spiritual, ada pula yang menjadikannya simbol harapan agar kelak bisa sungguh-sungguh beribadah ke tanah suci.
Baca Juga: Lama Menghilang! 9 Aktor & Aktris Korea yang Sudah Absen dari Drama Lebih dari 5 Tahun
Foto AI Jadi Manifestasi Doa
Tren ini berbeda dari editan AI lain yang biasanya berfokus pada gaya estetik seperti polaroid, prewedding, atau miniatur. Kali ini, nuansa religius jadi daya tarik utama.
Bayangan Ka’bah yang megah, lantai marmer yang berkilau, cahaya matahari sore yang hangat, hingga ekspresi wajah penuh ketenangan membuat hasil foto terlihat hidup dan sarat makna.
Bagi sebagian orang, setiap jepretan AI ini bukan hanya karya digital, tetapi juga manifestasi doa—sebuah pengingat dan penyemangat agar suatu saat benar-benar bisa melangkah ke Baitullah.
Baca Juga: Lagi Viral! Tren Foto AI di Depan Ka’bah Pakai Google Gemini, Realistis Bikin Merinding
Cara Membuat Doa Visual dengan AI
-
Unduh aplikasi Google Gemini lewat Play Store, App Store, atau gemini.google.com.
-
Unggah foto diri beresolusi tinggi agar detail wajah tidak berubah.
-
Masukkan prompt bernuansa spiritual, misalnya: “Cinematic portrait in front of the Kaaba, golden hour lighting, calm and peaceful expression.”
-
Tunggu hasilnya, lalu simpan & bagikan ke media sosial.
Baca Juga: Syarat dan Cara Mengecek Nama Penerima BSU September 2025
Lebih dari Sekadar Tren
Fenomena foto AI di depan Ka’bah memperlihatkan bahwa teknologi kini bukan hanya dipakai untuk estetika, tetapi juga sebagai sarana spiritual.
Banyak yang menyebutnya sebagai bentuk doa digital—sebuah harapan visual yang menguatkan niat untuk benar-benar menunaikan ibadah haji atau umrah di masa depan.
Dari layar ponsel, doa itu lahir dalam bentuk gambar. Siapa tahu, suatu saat akan jadi kenyataan di hadapan Ka’bah yang sesungguhnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin