RADARBANYUWANGI.ID – Hari ini, Selasa (26/8/2025) atau bertepatan dengan 2 Mulud 1959 Jawa dan 02 Rabiul Awal 1447 Hijriah, masyarakat Jawa yang lahir pada weton Selasa Kliwon punya karakter unik.
Secara umum, watak orang kelahiran Selasa dikenal pemarah dan pencemburu, tapi punya lingkar pergaulan luas. Sementara itu, pengaruh pasaran Kliwon membuatnya pandai berbicara, mudah bergaul, periang, hingga ambisius.
Namun ada sisi kurangnya, yakni kerap urakan, ceroboh memilih makanan, dan kadang kurang bisa membalas budi. Meski begitu, ia tetap setia pada janji dan sering selamat karena doa-doanya.
Dari sisi haståwårå Sri, pribadi ini dikenal berbelas kasih dan mudah mendapat simpati. Sementara sadwårå Tungle menggambarkan orang yang bertanggung jawab, meski suka membantah.
Sedangkan sångåwårå Kerangan memberi energi seperti matahari: bisa menghidupi, membawa banyak rezeki, dan wawasan luas.
Namun ada sisi yang perlu diwaspadai. Rakam Nuju Pati menandakan banyak sial, apes, atau kesialan yang bisa menimpa. Apalagi ditambah paarasan Aras Tuding, pemilik weton ini sering kena tunjuk dalam urusan atau perkara.
Untungnya, saptåwårå Sumur Sinaba memberi kelebihan: ia bisa jadi sumber ilmu dan tempat orang mencari petunjuk.
Wuku Dukut: Tajam Hati, Tapi Narima
Hari ini juga masuk wuku Dukut. Menurut pakem Jawa, wuku ini berada di bawah lindungan Bethara Sakri. Pohonnya pandan—melambangkan posisi yang kadang terpinggirkan. Tapi burungnya ayam alas, artinya disenangi orang berpangkat.
Ciri khas wuku Dukut adalah “diapit keris telanjang”: berhati tajam, mudah tersinggung, dan punya keinginan kuat. Meski begitu, ia juga narima nasib dan hati-hati soal keuangan, bahkan cenderung pelit.
Ada beberapa pantangan. Wuku ini tidak baik dipakai untuk mencari nafkah atau berguru ilmu kebatinan. Tapi justru cocok untuk memperbaiki rumah, membuka kebun, mencari jodoh, membuat obat, dan menyiapkan sesaji.
Untuk ruwatan atau tolak bala, sesaji yang biasa disiapkan berupa nasi dang-dangan senilai zakat fitrah, lauk ayam putih mulus dipanggang, dan jenang merah. Sedekah ini dipercaya bisa menolak aral berupa peperangan.
Catatan penting, selama tujuh hari wuku Dukut berjalan, disarankan untuk menghindari perjalanan ke arah barat daya, karena di sanalah letak “Kala Jaya Bumi”. (*)
Editor : Ali Sodiqin