Lipstik Yang Biasa Kita Pakai, Ternyata Dulu Beracun?
Tim Redaksi Radar Banyuwangi• Senin, 18 Agustus 2025 | 19:00 WIB
Produk kosmetik : lipstik
RADARBANYUWANGI.ID - Lipstik, adalah alat kosmetik yang berarti bagi wanita. Bisa dipastikan setiap wanita selalu membawa benda kecil ini di dalam tasnya saat bekerja, atau sekedar duduk cantik di cafe aesthetic. Tapi tahukah kamu? Ternyata lipstik yang digunakan banyak wanita ini dahulunya barang beracun.
Dan tentu saja saat itu pengguna lipstik beresiko mengalami gejala keracunan. Lalu bagaimana perjalanan lipstik sampai aman digunakan di zaman sekarang ini? Mari kita bahas sejarah lipstik.
Ternyata terciptanya lipstik dimulai oleh peradaban mesopotamia kuno. Sekitar era 2500 SM penduduk mesapotamia punya kebiasaan unik untuk merias diri mereka dengan menggunakan permata yang digiling sampai menghasilkan tekstur sehalus debu. Permata ini kemudian dioleskan ke bibir mereka seperti penggunaan lipstik.
Bukan hanya bibir, mereka juga menggunakan bahan bahan lain untuk merias wajah mereka. Barulah pada era 2000 SM kebiasaan merias wajah ini masuk ke wilayah Mesir. Saat itu banyak bangsawan dan pendeta Mesir yang bereksperimen menciptakan riasan wajah menggunakan bahan bahan lain.
Sayangnya, bahan yang digunakan para bangsawan dan pendeta untuk eksperimen ini adalah barang barang yang beracun. Dua bahan yang disebut digunakan saat itu adalah Bromine Mannite dan Lodide. Ketika dicampur bersamaan, dua logam ini bisa menjadi racun bagi manusia.
Tapi memang tidak bisa dipungkiri, kombinasi logam ini menghasilkan warna yang indah, layaknya warna ungu yang menawan. Dibalik keindahan lipstik Mesir ini, banyak penggunanya yang jatuh sakit akibat penggunaan bahan yang berbahaya untuk tubuh. Selain dua logam tersebut, masih ada bahan lipstik yang tidak kalah populer di Mesir dan tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya.
Bahan ini adalah sisik ikan. Berbeda dengan logam yang menghasilkan warna ungu, sisik ikan ini menghasilkan warna lipstik yang ikonik yaitu merah. Dalam sejarah, disebutkan Cleopatra sangat suka menggunakan lipstik merah yang terbuat dari sisik ikan ini.
Bukan hanya ratu Mesir, bahkan sampai saat ini lipstik merah masih banyak diganderungi masyarakat. Bedanya saat itu bentuk lipstik bukan padat seperti sekarang, melainkan berbentuk taburan halus. Lipstik berbentuk padat awal mulanya karena ide seorang pria.
Siapa dia? Dia bernama Abu Al Qasim Al Zahwari. Pada tahun 12 Masehi, saat itu ia mengambil stick parfum berbentuk padat lalu menggulungnya menggunakan cetakan khusus. Dari sinilah tercipta bentuk lipstik oles seperti yang kita kenal sekarang.
Kemunculan ide ini menggemparkan dunia karena pembuktian bahwa barang kosmetik sangat mudah untuk dibawa kemanapun dan digunakan kapanpun. Fakta uniknya pada abad 16 lipstik mendapat penolakan keras dari gereja saat awal masuk di Eropa. Pasalnya saat itu gereja Eropa sangat tidak suka dengan hal hal berbau magis sehingga mereka menciptakan larangan keras untuk benda benda yang berhubungan dengan mage salah satunya lipstik.
Pandangan masyarakat Eropa pada masa itu, penggunaan lipstik dianggap sebagai salah satu bentuk ritual yang menyesatkan. Bahkan para bangsawan pun tidak ada yang menggunakan lipstik di era dark age ini. Tapi masih ada juga rakyat Eropa yang menerima penggunaan lipstik, yaitu masyarakat kalangan bawah dan wanita penghibur malam.
Pandangan buruk masyarakat Eropa terhadap lipstik pelan pelan mulai luntur, saat kepemimpinan Ratu Elizabeth I yang suka menggunakan lipstik di setiap kehadirannya. Sejak saat itulah anggapan magis tentang lipstik hilang, digantikan dengan pemikiran masyarakat yang menganggap lipstik sebagai hiasan yang memperanggun paras wajah.
Lalu pada tahun 1884 perusahaan bernama Gurlain asal Paris mengadopsi desain Abu Al Qosim Al Zahwari dan mulai memproduksi lipstik mereka sendiri. Bahan bahan yang digunakanpun masih terdengar tidak biasa, mereka menggunakan lilin lebah, lemak rusa, dan minyak pohon jarak yang kemudian mereka bungkus menggunakan kertas sutra yang mahal.
Sejak kemunculan lipstik modern ini kepopuleran lipstik semakin meningkat dan membuat semua kalangan wanita menggunakan lipstik. Hal ini sampai memunculkan sebuah stigma baru tentang warna lipstik. Jika wanita menggunakan lipstik warna merah ia berasal dari kalangan atas, dan warna ungu menunjukkan wanita itu berasal dari kalangan bawah.
Namun sayangnya, penciptaan lipstik hingga era itu pun masih menggunakan bahan berbahaya seperti timbal dan vermellion. Sampai akhinya memunculkan sebuah peraturan yang melarang penggunaan bahan bahan berbahaya ini pada tahun 1900an.
Tapi kemunculan peraturan ini menimbulkan masalah baru yakni lipstik menjadi tidak tahan lama. Karena masalah ini banyak produsen memaksa untuk berinovasi menciptakan formula baru.
Contohnya seperti Paul Baudercroux pria asal prancis yang menciptakan formula lipstik ringan, tapi akhirnya dilarang karena terlalu menempel dan susah dihilangkan. Ide ini kemudian diadaptasi ilmuan lain dan terciptalah lipgloss pada tahun 1920. Hingga terciptalah lipstik tabung yang kita kenal oleh Maurice Lewy pada tahun 1923.
Waduh, ternyata proses penciptaan lipstik sepanjang itu ya. Sampai barulah tercipta inovasi warna lipstik pada tahun 1950. Beruntungnya kita bisa mencoba lipstik di era ini tanpa was was terkena racun.
Tapi tetap pilih produk kecantikan yang berlabel BPOM ya girls. Stay beauty, stay safety.
Penulis: Sabrina Khairunisa | Program magang jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News