RADARBANYUWANGI.ID – Meskipun usianya belum genap satu dekade, Ryu Kintaro sudah merasakan jatuh bangun dunia bisnis.
Ia pernah mencoba peruntungan menjual jamu gerobakan sebagai hadiah ulang tahun, dan nyatanya, usaha pertamanya itu gagal. Tapi dari situlah perjalanan dimulai.
Kini, Ryu menjadi perbincangan hangat di media sosial. Usaha jamu yang ia kelola, “Tjap Nyonya Kaya”, berkembang pesat dan menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah per tahun.
Masyarakat melihatnya bukan hanya sebagai anak kecil yang viral, tapi juga sebagai simbol kerja keras dan keberanian mengambil risiko sejak dini.
Ryu juga aktif di TikTok dan YouTube. Vlognya berisi keseharian, edukasi bisnis, hingga eksperimen sosial yang sering kali viral.
Dalam satu video, ia terekam menjajakan minuman ringan di pinggir jalan, namun dengan mobil mewah sebagai tempat berjualan. Aksi itu sontak mengundang perhatian publik.
Namun di balik sorotan, kritik tak bisa dihindari. Pernyataannya yang menyebut hidup sebagai perintis adalah hal menyenangkan justru menuai reaksi keras.
Beberapa netizen mempertanyakan relevansi pandangan tersebut, mengingat latar belakang ekonomi Ryu yang terbilang mapan.
Namun, ayahnya, Christopher Sebastian, dikenal sebagai pengusaha dan motivator, tampaknya memiliki pendekatan khusus dalam mendidik anak.
Ia tak memberikan hadiah ulang tahun berupa mainan, melainkan peluang usaha untuk dijalani dan dikelola langsung oleh Ryu.
Popularitas Ryu juga meningkat setelah ia membagikan video unboxing angpao Imlek senilai lebih dari Rp77 juta plus dua iPhone.
Konten tersebut menjadi viral, tetapi juga mengundang perdebatan mengenai pamer kekayaan dan sensitivitas sosial.
Di balik kontroversinya, tidak bisa dimungkiri bahwa Ryu Kintaro adalah simbol dari generasi muda yang berani mencoba dan belajar dari kesalahan.
Ia membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berpikir besar, selama nilai-nilai kerja keras tetap ditanamkan sejak awal. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin