RADARBANYUWANGI.ID – Cerita tak biasa datang dari pesulap kondang Master Limbad.
Sosok yang dikenal kalem, angker, dan penuh aura misteri itu bikin geger di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi.
Bukan karena aksi sulap ekstrem, melainkan lantaran penampilannya yang nyentrik membuat petugas imigrasi curiga.
Bahkan, ia sempat disebut sebagai “syaiton” oleh petugas karena memiliki taring permanen.
Kisah ini mencuat setelah komika Abdur Arsyad membagikannya dalam sebuah podcast yang viral di media sosial.
Dalam video yang sudah ditonton jutaan kali, Abdur mengisahkan detik-detik Limbad dicegat dan diamankan saat akan masuk ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah.
“Sampai Imigrasi di Jeddah, dia (Limbad) punya taring ditanam, nggak bisa dicopot. Dia ditahan, katanya ‘syaiton, syaiton!’,” ujar Abdur menirukan reaksi petugas yang terkejut dengan tampilan Limbad.
Penampilan Limbad yang tidak biasa memang kerap menarik perhatian.
Dengan rambut gimbal, wajah serius, dan pernak-pernik gelang di lengan, tak heran bila petugas mengira ia penganut aliran sesat.
Ketika pihak delegasi Indonesia tak kunjung datang menjelaskan, Limbad pun akhirnya angkat bicara sendiri.
“I’m Indonesian artist,” ucapnya sambil menunjukkan sejumlah video pertunjukan sulapnya. Namun, petugas belum juga percaya.
Asisten pribadi Limbad membenarkan kejadian tersebut.
Menurutnya, peristiwa itu terjadi saat Limbad menjalani ibadah umrah ketiganya pada 2017 lalu.
“Petugas melihat Limbad aneh, karena pakai gelang dan rambut gimbal. Akhirnya dia diminta masuk ruangan pemeriksaan,” katanya.
Pemeriksaan berlangsung ketat. Mulai dari mengecek rambut, tubuh, hingga gigi taring yang mencolok.
Bahkan, petugas sempat menyebut Limbad sebagai dajjal, setan, dan penganut satanik.
Tak cukup sampai di situ, pihak imigrasi memutar 30 juz ayat Alquran di hadapan Limbad.
Alih-alih kerasukan atau kepanasan, Master Limbad malah ketiduran mendengarkan lantunan ayat suci tersebut.
Masih belum percaya, petugas meminta Limbad membaca acak potongan ayat Alquran. Dengan tenang, ia membaca surat Ar-Rum hingga tuntas.
Barulah setelah itu, pihak imigrasi meyakini bahwa pria 53 tahun tersebut benar-benar seorang muslim dan pesulap dari Indonesia.
Sebagai bentuk permintaan maaf, Limbad justru diberi pengawalan khusus untuk melanjutkan umrah.
Ia diberi kemudahan untuk mencium Hajar Aswad, salat di Raudhah, di Hijir Ismail, hingga diajak keliling ke gurun-gurun pasir di Mekkah.
“Justru setelah kejadian itu, beliau dimuliakan dan diberi akses khusus di berbagai tempat ibadah. Ini jadi pengalaman tak terlupakan bagi Master,” ujar sang asisten. (*)
Editor : Ali Sodiqin