RADARBANYUWANGI.ID – Menurut Primbon, ada pantangan adat Jawa soal menikah di bulan Suro.
Namun, pasangan Megawati Hangestri Pertiwi dan Dio Novandra Wibawa justru melangsungkan akad suci mereka di tanggal 8 Suro 1959 Tahun Saka, bertepatan dengan Jumat 4 Juli 2025.
Sebuah keputusan yang berani—dan tentu saja, mengundang perhatian. Terutama Masyarakat Jawa.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, bulan Suro dikenal sebagai waktu sakral yang lebih identik dengan laku spiritual, tirakat, dan penyucian diri.
Banyak kalangan percaya, bulan ini bukanlah waktu yang baik untuk melangsungkan hajatan, apalagi pernikahan. Namun, Megawati dan Dio tetap melangkah mantap menembus batas pakem.
Pasangan ini telah memantapkan hati dan banyak melakukan doa serta tirakat sebelumnya. Keduanya menikah usai salat Jumat (4/7) di Jember, Jawa Timur.
Weton ‘Pegat’, Tapi Saling Lengkapi
Tak hanya soal bulan pernikahan, hitungan weton Megawati dan Dio juga sempat menjadi perbincangan.
Berdasarkan Primbon Jawa, pasangan ini masuk dalam kategori “Pegat”—sebuah ramalan yang menggambarkan potensi perpisahan atau konflik besar dalam rumah tangga.
Megawati lahir pada Senin Pon, 20 September 1999, dengan neptu 11, sementara Dio lahir pada Minggu Legi, 17 November 1996, dengan neptu 10.
Total neptu mereka 21, angka yang dalam Primbon masuk ke kategori kurang menguntungkan dalam perjodohan.
Namun, hitungan itu bukan harga mati. Banyak pasangan dengan neptu pegat yang justru berhasil membuktikan cinta dan keteguhan mereka melampaui ramalan.
Mega & Dio: Dua Watak Kuat, Satu Visi Hidup
Menurut Primbon, Mega dikenal sebagai pribadi yang simpatik dan cerdas, namun cenderung emosional dan tegas terhadap orang terdekat.
Ia dinaungi Wuku Wugu—menandakan wawasan luas namun perlu hati-hati dalam pergaulan sosial.
Sementara itu, Dio punya karakter pemimpin, ramah, namun sering kali gelisah secara batin.
Wuku Kulawu menaungi kelahirannya, yang disebut cocok untuk menikah di usia dewasa serta memiliki relasi sosial yang luas.
Meski dari sisi Primbon keduanya terbilang “kurang serasi”, secara psikologis dan komunikasi, Mega dan Dio dinilai mampu saling melengkapi.
Sebab, mereka punya watak berbeda. Tapi justru hal itu yang membuat keduanya saling memahami dan menyeimbangkan.
Menikah di Bulan Suro: Pantang atau Pilihan?
Pantangan menikah di bulan Suro memang masih diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa.
Namun dalam konteks kekinian, tidak sedikit pasangan yang memilih tetap menikah di bulan ini dengan sejumlah penyesuaian spiritual.
Seperti yang dilakukan Mega dan Dio—dengan doa, laku batin, serta menjaga adat sebaik mungkin.
Bagi generasi modern, bulan Suro bukan lagi sekadar bulan larangan, tapi bisa menjadi waktu terbaik untuk mengikrarkan janji dengan ketulusan hati. (*)
Catatan Redaksi: Primbon Jawa adalah warisan budaya yang kaya makna, namun bukan satu-satunya penentu jalan hidup. Cinta, komitmen, dan niat tulus dari pasangan adalah kunci utama dalam membangun keluarga yang harmonis.
Editor : Ali Sodiqin