Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pantesan Dedi Mulyadi Disegani Banyak Orang, Primbon Ungkap Weton Tulang Wangi?

Agung Sedana • Minggu, 29 Juni 2025 | 21:50 WIB

Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi.

RADARBANYUWANGI.ID – Sosok Dedi Mulyadi selama ini dikenal sebagai tokoh Jawa Barat yang nyentrik dengan gaya tutur kebudayaan Sunda, namun belakangan banyak warganet penasaran dengan weton kelahiran mantan Bupati Purwakarta tersebut.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, weton bukan hanya sekadar hitungan hari lahir, tetapi dipercaya dapat memengaruhi karakter, jalan hidup, bahkan aura kepemimpinan seseorang.

Diketahui dari berbagai sumber, Dedi Mulyadi lahir pada 11 April 1971.

Berdasarkan kalender Jawa, tanggal tersebut jatuh pada hari Minggu Wage. Dalam Primbon Jawa, Minggu Wage memiliki neptu hari 5 (Minggu) + 4 (Wage) = total neptu 9.

Menurut perhitungan Primbon, orang dengan weton Minggu Wage dipercaya memiliki karakter terbuka, lugas, pandai bergaul, dan sering dipercaya menjadi penengah dalam suatu masalah.

Neptu 9 juga dianggap memiliki aura pengayom, sehingga cocok menempati posisi publik atau pemimpin informal di masyarakat.

Lantas, apakah Dedi Mulyadi termasuk golongan Tulang Wangi?

Dalam Primbon Jawa, Tulang Wangi adalah istilah untuk orang yang dipercaya memiliki aura kegaiban atau daya linuwih yang tidak biasa, sehingga meskipun jasadnya mati, namanya tetap harum (wangi) dan sering disebut-sebut.

Biasanya, golongan ini jatuh pada weton dengan neptu ganjil yang jika dijumlahkan dengan neptu pasangan atau keluarga dekatnya, membentuk pola tertentu, seperti jumlah 13, 25 yang diyakini angka-angka keramat di Primbon.

Dengan neptu 9, Dedi Mulyadi secara teoretis bisa tergolong Tulang Wangi, apalagi jika terbukti dalam keseharian beliau memiliki laku spiritual atau tirakat khusus.

Namun, status Tulang Wangi tidak semata dilihat dari weton saja, melainkan dari seberapa jauh orang tersebut melakukan laku hidup kebatinan, pengabdian kepada masyarakat, serta jejak nama yang ditinggalkan.

Menariknya, pengaruh Dedi Mulyadi di masyarakat Jawa Barat memang sering dikaitkan dengan aura karisma tradisi.

Dalam beberapa momen, ia tampil dengan busana adat Sunda, ritual budaya, hingga meruwat situs-situs keramat di kampung.

Hal ini membuat sebagian orang meyakini, aura Tulang Wangi itu memang sedikit banyak melekat pada dirinya, meski tidak secara mutlak.

Sebagai penutup, Primbon Jawa selalu menekankan bahwa weton hanyalah tirakat hitungan, bukan kepastian mutlak.

Karakter seseorang tetap ditentukan oleh laku hidup, amal perbuatan, dan bagaimana ia menjaga nama baiknya di hadapan masyarakat.

Editor : Agung Sedana
#dedi mulyadi #weton #tulang wangi