RadarBanyuwangi.id – Pernahkah Anda melihat penonton yang saling dorong dan berputar secara liar di depan panggung konser?
Itu adalah moshing, sebuah tradisi khas dalam musik punk dan metal yang memiliki sejarah yang panjang.
Dari awal munculnya di era punk di California hingga bagaimana ia diterapkan dalam berbagai genre modern, moshing menjadi simbol ekspresi, solidaritas, dan revolusi budaya bawah tanah. Mari kita teliti bagaimana "tarian ekstrem" ini terbentuk, berkembang, dan tetap ada.
Moshing mulai dikenal antara akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an di kalangan punk dan hardcore di Amerika Serikat, terutama di Southern California (Huntington dan Long Beach) serta di Washington D. C..
Berasal dari gaya pogo (melompat-lompat di tempat) di konser-konser punk seperti Sex Pistols di London, dorongan yang bersifat spontan ini kemudian beralih menjadi dorong-dorongan yang lebih sengit di dalam mosh pit.
Istilah "mosh" dipercaya berasal dari sebuah koran zine punk yang ditulis oleh Mike Gitter, berdasarkan cara pengucapan “mash” yang digunakan oleh komunitas skinheads di New York City.
Di Washington D. C. , mosh didalami sebagai “slam dancing”, berkembang berdampingan dengan band-band hardcore seperti Minor Threat dan Bad Brains.
Sementara di New York City (NYHC), teknik tersebut mengalami evolusi: mosh pit menjadi tidak hanya tentang dorongan tetapi juga melibatkan gerakan ekstrem seperti “circle pit” dan “wall of death”.
Dimana penonton dibagi menjadi dua kelompok yang kemudian berlari saling menabrak saat bagian ya yang lebih berat terjadi. Ini kemudian menyebar ke dunia metal dan thrash melalui band-band seperti Anthrax, hingga dikenal secara luas di seluruh dunia.
Ini lebih dari sekadar kekerasan, moshing menjadi simbol pelampiasan ketegangan, “pelemahan energi yang penuh kekerasan” yang ditegaskan oleh Michael Azerrad dalam bukunya Our Band Could Be Your Life.
Bagi kaum remaja punk di era Reagan, ini merupakan cara untuk melawan rasa cemas, ketidakberdayaan, dan tekanan yang muncul akibat kondisi politik saat itu.
Banyak yang rela terlempar cukup jauh hanya untuk merasakan kebersamaan dalam hiruk-pikuk musik.
Moshing cepat mendapatkan reputasi yang kontroversial karena insiden kekerasan dan cedera. Kasus tragedi seperti kematian penonton di konser Smashing Pumpkins dan Woodstock ’99 menyoroti masalah keselamatan.
Mengakibatkan pelarangan moshing di sejumlah tempat serta penerapan "etika pit" seperti "no karate" (larangan menendang atau memukul).
Forum seperti Council of the Lost menyusun pedoman agar peserta saling membantu jika ada yang terjatuh dan menjaga area bagi mereka yang tidak ingin berpartisipasi.
Pada tahun 1990-an dan 2000-an, moshing menjangkau genre grunge (Nirvana, Alice in Chains), nu metal (Korn), deathcore, hingga hip-hop (ASAP Mob, Travis Scott), sering disebut sebagai “raging”.
Dalam rap modern, mosh pit telah menjadi bagian dari pertunjukan yang penuh energi, meskipun dengan penegakan aturan keselamatan yang lebih ketat setelah tragedi kerumunan yang fatal. (*)
Editor : Ali Sodiqin