RadarBanyuwangi.id - Di tengah dominasi gawai dan permainan digital, sejumlah sekolah dan komunitas mulai melakukan eksperimen menarik, mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak masa kini.
Mulai dari congklak, bentengan, hingga lompat tali karet, anak-anak yang biasanya akrab dengan layar sentuh diajak mencoba permainan yang pernah meramaikan masa kecil generasi sebelumnya.
Hasilnya cukup mengejutkan. Meski awalnya tampak bingung atau malu-malu, banyak anak yang akhirnya larut dalam keceriaan permainan lawas tersebut.
Di salah satu kegiatan ekstrakurikuler sekolah dasar di Yogyakarta, misalnya, anak-anak tampak antusias saat bermain bentengan.
Teriakan, lari-lari, dan tawa lepas terdengar di halaman sekolah yang biasanya sepi karena istirahat dihabiskan dengan gadget.
Permainan seperti congklak bahkan mengasah kemampuan berhitung dan strategi sederhana.
Jika dibandingkan dengan game digital, permainan tradisional jelas menawarkan keunggulan dalam hal interaksi sosial langsung, aktivitas fisik, dan pembentukan kerja sama.
Anak-anak bergerak, tertawa bersama, dan belajar mengenal emosi secara nyata, sesuatu yang tak selalu didapat dari dunia virtual.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa meski zaman telah berubah, nilai dari permainan tradisional tetap relevan.
Dengan pendekatan yang menyenangkan, generasi digital pun bisa menikmati serunya permainan masa lalu, sekaligus membangun kebersamaan yang lebih hangat dan nyata. (*)
Editor : Ali Sodiqin