RadarBanyuwangi.id - Dalam budaya kita, ada pepatah lama yang berbunyi, “Makan sepiring lebih syahdu.”
Kalimat ini terdengar sederhana, namun memiliki makna yang dalam. Pepatah ini menggambarkan betapa kuatnya nilai kebersamaan, terutama saat menikmati makanan bersama orang terdekat.
Makan sepiring bukan soal keterbatasan, melainkan tentang kehangatan. Saat dua atau lebih orang duduk melingkar, menyuap nasi dari satu piring, di sanalah muncul rasa saling berbagi dan ikatan emosional yang lebih kuat.
Tanpa sadar, kegiatan ini mampu menciptakan suasana akrab, mempererat hubungan, bahkan meredakan konflik yang sempat terjadi.
Budaya makan bersama ini banyak dijumpai di pedesaan maupun dalam tradisi keluarga besar. Anak-anak belajar saling menghargai, membagi lauk, dan tidak rakus.
Sementara orang dewasa menemukan ruang untuk bercerita, bercanda, bahkan menyampaikan nasihat tanpa kesan menggurui.
Di tengah zaman modern yang serba cepat dan individualistik, kebiasaan ini mulai tergeser. Orang lebih sering makan sambil menatap layar ponsel masing-masing, kehilangan momen kebersamaan yang sesungguhnya.
Padahal, makan bersama dalam satu piring bisa menjadi cara sederhana namun efektif untuk kembali terhubung secara emosional.
Pepatah “makan sepiring lebih syahdu” mengingatkan kita untuk tidak hanya sekadar mengisi perut, tetapi juga mengisi hati. Dalam satu piring, terselip rasa cinta, kepedulian, dan kenangan yang tak ternilai.
Jadi, kapan terakhir kali Anda makan sepiring bersama orang tercinta? Mungkin sekarang saat yang tepat untuk mencoba lagi dan merasakan syahdunya kebersamaan yang sesungguhnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin