RadarBanyuwangi.id - Di banyak daerah di Indonesia, masih sering ditemui tradisi meletakkan makanan di meja atau dapur pada malam Jumat, terutama jika ada anggota keluarga yang baru saja meninggal.
Makanan ini dipercaya sebagai "sandingan" atau sajian untuk arwah yang datang berkunjung. Namun, benarkah arwah benar-benar datang untuk menyantap makanan tersebut?
Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun, terutama di Jawa. Biasanya, makanan yang disajikan berupa nasi putih, lauk sederhana, dan air putih.
Tak jarang juga dilengkapi dengan dupa atau bunga. Masyarakat percaya bahwa malam Jumat adalah waktu ketika "tabir" antara dunia manusia dan roh menjadi tipis, sehingga arwah leluhur bisa pulang sebentar.
Menurut budayawan Jawa, tradisi ini lebih bermakna simbolis dibanding mistis. Makanan sandingan bukan untuk dimakan oleh arwah secara harfiah, tapi sebagai bentuk penghormatan dan pengingat pada mereka yang telah tiada.
Hal ini juga mengajarkan nilai kebersamaan dan doa untuk keluarga yang telah mendahului. Ahli antropologi dari Universitas Gadjah Mada menyebut bahwa tradisi seperti ini berfungsi sebagai sarana menjaga hubungan antar generasi dan memperkuat nilai spiritual dalam keluarga.
“Tidak ada bukti ilmiah bahwa arwah datang memakan makanan itu, tapi makna budayanya sangat dalam,” ujarnya.
Jadi, mitos makanan sandingan bukan sekadar cerita horor. Di baliknya ada pesan kebaikan, penghormatan, dan tradisi yang mempererat ikatan keluarga.
Meski zaman sudah modern, tak ada salahnya mempertahankan tradisi ini jika dilakukan dengan niat baik.
Selama tidak bertentangan dengan keyakinan, makanan sandingan bisa jadi cara sederhana untuk mengenang orang tercinta. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi