Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menjaga Nyala Kartini dari Ruang Bersalin hingga Pelosok Desa

Sigit Hariyadi • Senin, 21 April 2025 | 15:30 WIB
Hj Yulianingsih
Hj Yulianingsih

RADARBANYUWANGI.ID - Di sudut-sudut sunyi Banyuwangi, saat malam larut atau fajar belum terbit, para bidan sering kali menjadi satu-satunya harapan bagi perempuan yang hendak melahirkan.

Di balik kesunyian itu, ada semangat yang tak pernah padam: semangat Kartini.

Bagi Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Banyuwangi, Hj Yulianingsih, semangat itu tak hanya hidup di buku sejarah. Tetapi, nyata dalam setiap langkah pelayanan kesehatan kepada perempuan dan anak.

Menurut istri Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi Dr H Soekardjo ini, Raden Ajeng Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan.

”Kami para bidan percaya bahwa perempuan yang sehat, akan melahirkan generasi yang kuat. Kartini menginginkan perempuan cerdas, kami berjuang agar perempuan bisa sehat dulu untuk mencapai itu,” katanya.

Sebagai Ketua IBI, Yulianingsih telah lama aktif dalam memperkuat edukasi kesehatan bagi perempuan desa. Dari kelas ibu hamil, penyuluhan gizi balita, hingga pendampingan kesehatan remaja putri. IBI di bawah kepemimpinannya aktif bergerak menjangkau hingga ke pelosok.

”Peran sebagai ketua IBI dan perguruan tinggi berusaha untuk menjadikan bidan sebagai bidan yang profesional, bekerja sesuai kewenangan dan kompetensi, serta sebagai pengayom pembimbing serta  ibu sahabat bagi bidan-bidan Banyuwangi dan semua teman kerja di Puskesmas Sobo serta selalu mendekatkan diri kepada masyarakat,” ujar Yulianingsih.

Namun, jalan perjuangan itu tidak selalu mudah. Salah satu tantangan paling berat menurut Yulianingsih adalah minimnya literasi kesehatan di kalangan perempuan, terutama di wilayah pedesaan dan pesisir.

”Kami sering menemui ibu-ibu muda yang masih percaya mitos, tidak rutin periksa kehamilan, atau malu untuk konsultasi soal reproduksi. Tantangan terbesar justru bukan fasilitas, tapi bagaimana mengubah cara pandang,” jelasnya.

Peran bidan sangatlah diperlukan oleh masyarakat umumnya dan perempuan khususnya karena bidan adalah sahabat perempuan.

Bila sudah menjadi sahabat, maka akan mudah bagi bidan memberikan solusi dalam pemecahan masalah-masalah kaum perempuan.

Sebagai ketua IBI, Yulianingsih telah bekerja sama dengan pesantren, terutama pesantren putri untuk memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta edukasi tentang kesehatan yang lain.

”Kami sebagai pendamping ibu hamil, baik yang berisiko maupun yang tidak berisiko, untuk selalu mendampingi, hingga seorang ibu bisa memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif selama 2 tahun. Tidak hanya itu, peran bidan juga memperkuat program Keluarga Berencana (KB) dan menekan angka kelahiran tidak terencana, Tim Pendamping Keluarga (TPK) bekerja sama dengan Petugas Penyuluh Keluarga Berencana (PPKB) terus menggencarkan kegiatan pendampingan intensif kepada pasangan usia subur (PUS),” jelas Yulianingsih.

Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas, sehat, dan sejahtera.

PUS menjadi sasaran utama karena merupakan kelompok yang paling berperan dalam pengendalian jumlah dan jarak kelahiran.

Melihat perkembangan zaman yang begitu cepat, Yulianingsih percaya perempuan muda harus terlibat aktif dalam meneruskan semangat Kartini.

Ia pun mengimbau para bidan untuk aktif mengedukasi masyarakat melalui platform digital.

”Kartini zaman sekarang bisa hadir di media sosial. Perempuan muda bisa bikin konten tentang kesehatan, edukasi tentang menstruasi, menyuarakan pentingnya ASI. Jangan ragu jadi suara perubahan,” tegasnya.

Yulianingsih menambahkan, tantangan terbesar bidan saat ini adalah angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

Maka, pihaknya akan terus berjuang merapatkan barisan supaya AKI, AKB, dan tengkes (stunting) bisa turun.

Tapi, semua itu membutuhkan bantuan dari semua pihak. Peran lintas program dan lintas sektor benar-benar diharapkan.

Dikatakan Yulianingsih, saat ini hampir tidak ada ibu hamil baru yang datang. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri, tidak hanya bagi para bidan, tapi juga bagi sistem kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan.

Kurangnya deteksi dini kehamilan dan pemeriksaan rutin bisa berdampak negatif pada kesehatan ibu dan bayi.

”Untuk itu, harapannya kaum hawa bila merasa hamil segera periksakan kehamilannya sehingga akan lahir generasi hebat dan unggul,” pungkasnya. (sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#bidan #ruang bersalin #hari kartini #perempuan #RA Kartini