RADAR BANYUWANGI - Sebuah thread yang ditulis @JeroPoint dan dimuat di en.rattibha.com mengisahkan peristiwa kelam tragedi pembunuhan dukun santet di Banyuwangi.
Thread sebenarnya sudah diposting pada 9 Februari 2023. Namun, kini mendadak viral kembali usai muncul rencana penayangan film bertema santet.
Film berjulul Lemah Santet Banyuwangi itu diproduksi oleh MD Pictures ini dijadwalkan tayang pada 8 Mei 2025 mendatang.
Namun, sejumlah kalangan di Banyuwangi, Jawa Timur, yang dimotori oleh Ketua DPC PARFI Banyuwangi, Denny Sun'anudin, secara tegas menolak perilisan film tersebut.
Penolakan ini muncul setelah trailer film yang dianggap merugikan citra Banyuwangi.
Denny menegaskan bahwa gambaran yang ditampilkan dalam film tidak mencerminkan nilai-nilai positif yang telah dibangun dengan susah payah oleh masyarakat Banyuwangi.
Dalam thread tersebut, @JeroPoint menulis peristiwa kelam di Banyuwangi pada 1998 yang dialami oleh guru-guru ngaji, kiai, dan dukun santet.
Perang Ilmu Hitam, Intrik Politik, sampai pemenggalan kepala di gantung di pohon menjadi bagian dari catatan kelam pada tragedi "Pembantaian Dukun Santet"
Dia juga mencantumkan foto radiogram Bupati Banyuwangi Kolonel (Purn) Turyono Purnomo Sidik tertanggal 6 Februari 1998 yang berisi imbauan kepada camat dan kades untuk mengamankan orang-orang yang diduga menjadi dukun santet.
Berikut ulasan singkatnya:
Banyuwangi, yang dikenal sebagai tanah luhur nan "sakti", menyimpan kisah kelam yang terjadi pada tahun 1998.
Saat itu, oknum misterius berpakaian "Ninja" melakukan pembantaian sadis yang menargetkan para dukun santet, pondok-pondok, serta alim ulama.
Peristiwa ini meninggalkan bekas trauma mendalam bagi masyarakat, termasuk Satrio, seorang saksi yang menyaksikan keluarganya dibunuh di depan matanya.
Dalam sebuah thread yang viral di media sosial, Satrio menceritakan kembali pengalaman mengerikannya saat berusia 11 tahun.
Ia berada di salah satu padepokan di Banyuwangi ketika tragedi itu terjadi. Malam itu, setelah menerima kabar bahwa ayahnya dibunuh oleh orang misterius, aliran listrik di pondok padam.
Dalam kegelapan, suara teriakan dan tangisan memenuhi udara, diikuti oleh derap langkah yang membuatnya ketakutan.
Ketika ia mengintip dari jendela, Satrio melihat orang-orang berpakaian serba hitam menyeret tubuh guru-gurunya yang bersimbah darah.
Dalam momen yang mencekam, ia menyaksikan salah satu guru, Pak Rohim, dibunuh dengan kejam.
"Darah memuncrat ke mana-mana," kenangnya dengan gemetar. Peristiwa itu menjadi awal dari serangkaian pembantaian yang mengguncang Banyuwangi.
Tragedi ini tidak hanya menimpa Satrio dan keluarganya, tetapi juga meluas ke seluruh Banyuwangi.
Komplotan misterius yang dijuluki "ninja" ini mengincar dukun-dukun santet dan praktisi supranatural lainnya.
Dalam waktu singkat, jumlah korban mencapai ratusan, dan masyarakat Banyuwangi hidup dalam ketakutan.
Bupati Purnomo Sidik pada saat itu mengeluarkan radiogram untuk mendata orang-orang yang dianggap memiliki kesaktian, namun hal ini justru memperburuk keadaan.
Pembantaian semakin menjadi-jadi, dengan jasad para korban digantung di pohon-pohon dan pesan bertuliskan "DUKUN BIADAB!" ditinggalkan di dekat mereka.
Satrio dan teman-temannya di pondok merasa terjebak dalam situasi yang semakin mencekam. Mereka belajar ilmu bela diri untuk melindungi diri, namun teror tetap menghantui.
"Kami tidak berani keluar setelah magrib," ungkapnya. Suasana Banyuwangi kala itu seperti kota mati, di mana warganya takut untuk beraktivitas di luar rumah.
Perang ilmu antara para dukun dan komplotan ninja semakin intens. Di pondok Satrio, kejadian aneh dan kerasukan sering terjadi, menambah ketegangan di antara para santri.
"Kami semua berdoa dengan keras untuk melindungi diri," kenangnya.
Satrio berencana untuk kembali ke Banyuwangi dalam waktu dekat untuk melakukan riset lebih dalam mengenai tragedi ini dan bertemu dengan saksi-saksi lainnya.
Ia berharap dapat mengungkap kebenaran di balik peristiwa kelam tersebut, meskipun banyak yang memilih untuk menyimpan rahasia demi keselamatan mereka.
Kisah ini menjadi pengingat akan kegelapan yang pernah melanda Banyuwangi, dan bagaimana trauma tersebut masih membekas dalam ingatan masyarakat hingga kini.
Satrio berharap agar kisahnya dapat menjadi pelajaran bagi generasi mendatang untuk tidak melupakan sejarah kelam yang pernah terjadi di tanah sakti ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin