Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Banyak Tanaman Mulai Langka, Akademisi Untag Banyuwangi Sebut Dampak Faktor Lingkungan dan Pertanian Intensif

Lugas Rumpakaadi • Senin, 9 September 2024 | 16:10 WIB
Pohon buah duwet masih bertahan hidup di tepi jalan di Kecamatan Sempu, Banyuwangi.
Pohon buah duwet masih bertahan hidup di tepi jalan di Kecamatan Sempu, Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id - Beberapa dekade terakhir, keanekaragam tanaman buah secara global mengalami penurunan. Salah satu tandanya, beberapa jenis tanaman kini mulai langka atau sulit ditemukan.

Beberapa tanaman buah yang mulai langka ditemui antara lain kepel, duwet, matoa, dewandaru, kedondong, hingga ciplukan. Pohon maupun tanaman-tanaman tersebut bahkan sudah mulai tidak dikenali oleh generasi muda.

Menurunnya keanekaragaman tanaman tersebut, disebabkan oleh berbagai faktor. “Ada banyak faktor seperti perubahan iklim, eksploitasi, aktivitas pertanian yang intensif, polusi, dan masih banyak lagi,” ungkap Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, Kanthi Pangestuning Prapti SP MSc.

Faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh dengan keberadaan tanaman-tanaman yang mulai langka itu. “Sebagai contoh ciplukan, yang termasuk dalam kategori gulma di lahan pertanian, saat ini sudah mulai sulit ditemui,” imbuhnya.

Aktivitas pertanian intensif, kata dia, membuat tanaman ciplukan dibasmi oleh petani, karena dianggap membuat produksi tanaman pertanian utama menurun. “Karena ada persaingan nutrisi antara tanaman pertanian dan gulma, sehingga tanaman utama yang diproduksi jadi tidak maksimal,” terangnya.

Selain itu, ada pula faktor kurangnya permintaan pasar terhadap tanaman-tanaman yang kini mulai langka. “Kecenderungan, masyarakat akan membudidayakan tanaman produksi yang banyak permintaannya. Sehingga tanaman-tanaman tertentu, yang dianggap kurang permintaannya, tidak mendapatkan perhatian dan perlahan-lahan mulai habis,” cetus Kanthi.

Beruntung, pada beberapa tanaman, seperti ciplukan, saat ini mulai banyak digemari masyarakat lantaran manfaatnya. “Sekarang malah ada yang sengaja khusus menanam ciplukan, sehingga saat ini mulai dibudidayakan kembali,” terangnya.

Menanggapi realita mulai turunnya populasi tanaman-tanaman yang kini mulai langka ini, Kanthi menyarankan adanya upaya konservasi. “Kalau tidak ada upaya ini, populasinya akan terus menerus turun,” ujarnya.

Pemerintah juga diharapkan bisa turut serta dalam upaya konservasi tanaman-tanaman tersebut. “Disarankan pemerintah bisa membuat kebijakan untuk menjaga kelestarian tanaman itu,” pungkasnya. (gas/bay)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Lingkungan #langka #tanaman #akademisi #pertanian #untag banyuwangi