RadarBanyuwangi.id - Tanaman Kratom, yang punya nama ilmiah Mitragyna speciosa Korth, adalah sejenis tanaman tropis yang banyak tumbuh di kawasan Asia Tenggara.
Selain di Indonesia, tanaman berdaun mirip seperti daun jambu biji ini, dapat ditemui di Thailand, Malaysia, dan Papua Nugini.
Beberapa waktu belakangan tanaman ini sempat dibahas Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama para menteri di Istana, Kamis (20/6).
Dilansir dari channel YouTube Tanam Aja, tanaman ini sejak zaman dahulu sudah dikonsumsi masyarakat lokal untuk digunakan untuk menambah stamina dan meningkatkan produktivitas kerja.
Biasanya daun kratom yang punya karakteristik unik dengan memiliki tulang daun berwarna merah, dikonsumsi masyarakat dengan cara dikunyah atau diseduh seperti teh.
Selain itu, daun kratom juga digunakan dalam pengobatan tradisional untuk meredakan nyeri, mengobati diare, dan sebagai tonik umum untuk kesehatan.
Daun kratom mengandung lebih dari 40 senyawa aktif, yang paling menonjol adalah alkaloid mitragynine dan 7-hydroxymitragynine.
Selain itu, Kratom juga punya kandungan antioksidan antara lain, flavonoid, terpenoid, saponins, polifenol, dan glikosida.
Terbaru, dilansir dari laman Sekretariat Presiden, Presiden Joko Widodo mendorong pembahasan tanaman kratom ini.
Hal itu dilihat dari rapat terbatas presiden bersama sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, (20/6) lalu.
Rapat tersebut difokuskan pada pembahasan potensi budidaya kratom di Indonesia, sebagai langkah untuk meningkatkan nilai ekonomis dan kualitas produksi tanaman tersebut.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, dalam keterangannya setelah rapat juga menyampaikan bahwa pemerintah akan segera mengatur regulasi terkait budidaya kratom di Tanah Air.
Hal tersebut penting agar nilai ekonomi dan kualitas dari tanaman kratom dapat terus meningkat.
“Saran kami nanti mungkin kalau ini regulasinya sudah diatur mungkin kita budidayakan ke depan supaya nilai ekonomisnya, kualitasnya, dan seterusnya bisa meningkat karena harga sekarang ini turun drastis karena banyak faktor: kualitasnya, kemudian distribusinya, dan seterusnya,” ujarnya. (sas)
Editor : Salis Ali Muhyidin