Dari generasi ke generasi bentuk dan macam alat masak menjadi semakin bervariasi. Mulai dari berbahan alumunium sampai teflon anti lengket, yang belakangan bahan pembuatannya semakin beragam.
Ketika belum ditemukannya teknik cor logam, manusia menggunakan tanah liat yang di bentuk secara manual dan dipanaskan untuk membuat berbagai bentuk alat masak. Untuk membuat dandang atau kuali, yang digunakan untuk memasak suatu bahan makan seperti gudeg bagi masyarakat Jogja, orang zaman dahulu terlebih dulu harus menguras kreativitas mereka dengan membuat kuali dari bahan tanah liat.
Namun, setelah ditemukannya teknik cor logam, maka masyarakat beralih ke peralatan yang berbahan logam cor. Kemampuan alumunium sebagai penghantar panas yang jauh lebih baik daripada tanah liat jadi alasan kuat, dandang dari bahan ini jauh lebih banyak digunakan.
Setelah berkembang dan semakin majunya inovasi,dandang penanak nasi mulai ditinggalkan. Kini, masyarakat lebih banyak menggunakan penanak nasi elektronik yakni magic com.
Meski demikian, tidak serta merta dandang penanak nasi ditinggalkan. Rupanya, masih ada sebagian masyarakat yang bertahan dengan peralatan masak produk lampau. Masih banyak yang setia menanak nasi dengan peranti dandang. Ini karena citarasa nasi yang lebih natural dan enak.
Jika memasak dengan alat elektronik, apalagi dalam jangka waktu lama dipanaskan, cita rasa nasi yang alami akan sedikit hilang. Karena itu, menanak nasi secara masal untuk keperluan restoran maupun warga selamatan, mereka lebih memilih menggunakan dandang. (sas/bay)
Editor : Niklaas Andries