Sebagai sebuah ‘tungku’ masak modern, kompor gas maupun kompor induksi produk terbaru kebaradaannya cukup vital di dapur. Ini adalah peranti utama di dapur modern.
Sejauh ini, teknologi kompor modern berkembang dengan sangat pesat. Masyarakat ternyata masih ada juga yang mempergunakan tungku tradisional untuk kegiatan memasak di pawon (dapur). Bentuknya beragam mulai yang terbuat dari susunan batu bata sampai berbentuk tungku masak yang biasa disebut dengan anglo.
Anglo ini bisa dikatakan bentuknya mirip dengan tungku api, yang berfungsi sebagai tungku untuk memasak. Bentuknya kotak mempunyai dua lubang di sisi atas yang berguna untuk memanaskan alat masak.
Sedangkan satu lubang di sisi bawah berguna untuk memasukkan bahan bakarnya. Sebagai bahan bakarnya, anglo masih menggunakan kayu bakar atau arang. Keberadaan alat ini sejauh ini masih digunakan masyarakat khususnya di pedesaan. Bahkan saat bahan bakar gas langka, anglo sering jadi solusi sesaat untuk memasak.
Yang membedakan anglo dengan tungku masak sejenis dengan label tradisional adalah fleksiblitasnya. Anglo bisa dipindah-pindahkan. Boleh jadi saat memasak dipergunakan di luar ruangan. Setelah digunakan baru kembali dimasukkan dalam ruangan atau gudang.
Selain itu efek pemanasan yang dihasilkan dari pembakaran kayu atau arang di dalam anglo lebih merata. Hanya saja, kekurangan alat ini membutuhkan kayu arang dalam jumlah yang tidak sedikit.
Bahkan sisa pembakaran yang cukup banyak bisa menjadi polusi di dapur saat digunakan. Sisi lainnya anglo membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai titik panas. Meski demikian, anglo ternyata masih banyak diproduksi sebagai home industri di beberapa tempat.
Harganya yang lebih murah dibandingkan kompor gas menjadi opsi bagi masyarakat untuk tetap dipergunakan di dapur. Khususnya sebagai cadangan sewaktu-waktu dipergunakan saat kondisi darurat. (nic/bay)
Editor : Niklaas Andries