Bisa dipakai untuk ibadah, untuk menggendong bayi, hingga menghalau cuaca dingin pegunungan.
Presiden Joko Widodo kerap kali mengenakan sarung dalam berbagai kesempatan. Hal ini semakin membuat sarung menjadi pakaian identitas masyarakat Indonesia.
Mengenakan sarung pun menjadi upaya untuk menghargai tradisi, serta keramahan, sekaligus telah menjadi karakteristik dari masyarakat Indonesia.
Meski menurut catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman, namun dalam perkembangan berikutnya, sarung telah menjadi identitas tak terpisahkan bagi masyarakat Indonesia.
Hampir di semua pondok pesantren tradisional, para santri menggunakan sarung dalam keseharian. Di Indonesia, sarung kini telah menjadi salah satu pakaian bangsa yang keberadaannya masih eksis.
Hal ini karena sarung selain dikenal sebagai busana muslim, penggunaannya juga sebagai atribut busana yang berhubungan dengan budaya dan adat istiadat.
Selain itu, kain sarung produksi Indonesia telah digunakan oleh masyarakat di berbagai dunia. Tentunya ini menjadi salah satu kebanggaan untuk bangsa Indonesia.
Tidak hanya karena populer sebagai pakaian identitas umat muslim yang menjadi mayoritas di Indonesia, sarung juga dianggap sebagai identitas masyarakat Indonesia. Ini karena kegunaan sarung yang beragam.
Tidak hanya terbatas untuk upacara keagamaan, namun dalam upacara adat serta pernikahan. Dalam kehidupan sehari-hari, sarung juga kerap dimanfaatkan untuk beberapa hal, misalnya sebagai alat untuk menggendong anak, untuk membungkus badan di kala udara dingin.
Tak heran, sarung dianggap tidak identik sebagai identitas satu agama tertentu. Sebab, sarung juga digunakan oleh berbagai kalangan di berbagai suku, sebagai busana dan kegunaan lain. (sas/bay)
Editor : Niklaas Andries