UNESCO telah mengapresiasi batik sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia. Pengakuan itu sejatinya jadi kebanggaan tersendiri warga Nusantara. Apalagi, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki motif batik sendiri.
Sementara di Banyuwangi, ada banyak motif batik yang menjadi ciri khas Bumi Blambangan. Mulai dari motif batik Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Alas Kobong, Paras Gempal, Kopi Pecah, Gedekan, Ukel, Moto Pitik, Sembruk Cacing, Blarak Semplah, Gringsing, Sekar Jagad, dan masih yang lain.
Yang paling populer tentu saja motif batik Gajah Oling. Motif batik ini menjadi dasar bagi seragam adat di sekolah, hingga pakaian resmi batik untuk kalangan pemerintah daerah. Bahkan penggunaan motif batik ini pun terus berkembang, tidak hanya sebatas pakaian.
Motif batik Gajah Oling ternyata juga mulai merambah segmentasi lebih luas dalam bentuk sarung. Ada tiga jenis pilihan sarung gajah Oling berdasar prosesnya. Yakni proses tenun, proses bordir, dan juga proses stamp atau cap.
Dari tiga jenis ini, metode tenun mulai langka. Karena tenun masih dikerjakan tradisional, belum menggunakan mesin modern yang bisa dikerjakan dalam skala besar.
Sementara itu, sarung motif Gajah Oling yang paling banyak beredar di masyarakat saat ini adalah dari hasil proses bordir. Terlebih, kini sudah banyak beroperasi UMKM bordir di Banyuwangi yang menggunakan mesin bordir komputer yang beroperasi secara otomatis.
Selain motif Gajah Oling, beberapa motif warisan budaya Indonesia seperti gunungan wayang juga banyak disukai warga.
‘’Menjelang Lebaran Idul Fitri lalu, banyak yang mencari sarung motif Gajah Oling,’’ ujar Neni Herawati, 28, penjaga toko baju yang tinggal di Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. (nic/bay)
Editor : Niklaas Andries