Kain kamen digunakan untuk menutupi bagian bawah tubuh. Mungkin karena inilah yang membuatnya hampir disamakan dengan sarung. Sebenarnya kamen memiliki bentuk yang mirip dengan sarung. Hanya saja memiliki corak yang menonjol dan motif persegi.
Kamen tidak hanya dikenakan oleh kalangan pria. Tetapi kalangan wanitanya juga mengenakannya. Bedanya hanya terdapat pada cara penggunaannya. Pada kalangan pria penggunaan kamen dilakukan dengan cara melingkarkan pada pinggang, kemudian diikat dengan simpul dari kiri ke kanan.
Kamen dililit dari kiri ke kanan dengan meninggalkan lelencingan di bagian bawahnya. Lelencingan adalah ujung kain yang menyentuh tanah. Ini melambangkan kejantanan. Selain itu, ada makna lainnya yakni yang mengenakan kamen harus berbakti kepada Ibu Pertiwi.
Sedangkan untuk penggunaan di kalangan wanita, kamen digunakan dengan cara melingkarkan tanpa simpul. Pemakaiannya harus berlawanan arah dengan cara pemakaian pria. Melilitkan kain dari kanan ke kiri, merupakan sebuah makna atau simbol sakti sebagai kekuatan penyeimbang pria. Hal ini juga bermakna bahwa wanita harus menjaga pria dalam menjalankan tanggung jawabnya atau dharma.
Penggunaan kain kamen pada perempuan juga disertai dengan bulang atau stagen. Bulang ini terlihat mirip seperti korset. Bulang atau stagen merupakan simbol dari rahim. Pemakaian bulang dilambangkan sebagai pengontrol emosi.
Dari segi bahan, sarung adat Bali terbuat dari kain halus dan tipis. Saat dikenakan, kamen harus memiliki jarak sejengkal di atas telapak kaki. Warna yang digunakan untuk kamen upacara adat biasanya ada dua macam, yakni warna kuning dan putih. Kamen tersebut biasanya digunakan untuk peribadatan maupun upacara lainnya di pura.
Selain dua warna tersebut, juga ada motif lain yakni kotak-kotak berwarna hitam-putih. Jenis kamen ini biasanya dipergunakan sebagai identitas pecalang atau polisi adat. Sedangkan kamen warna lain, biasanya digunakan untuk acara undangan atau acara formal lainnya. (nic/bay)
Editor : Niklaas Andries