Kalangan santri putra terbiasa bersarung pada setiap aktivitas. Mulai tidur, belajar, beribadah, jalan-jalan, bahkan berolahraga sekalipun, mereka terbiasa mengenakan kain sarung.
Kain sarung bagi santri adalah perlengkapan yang wajib dimiliki. Pemakaian kain sarung di kalangan santri terutama pada pondok pesantren salafiyah merupakan kekhasan. Kebiasaan memakai kain sarung ini banyak berlanjut meskipun mereka sudah tidak menyandang predikat santri.
Terlebih, saat pulang ke kampung halaman, santri tersebut kemudian menjadi tokoh agama atau ulama, maka bersarung merupakan pakaian wajibnya.
Bagi kalangan santri, memakai kain sarung tidak semata melanjutkan tradisi pesantren yang ditradisikan para pendahulunya. Banyak alasan mengapa pakaian sarung menjadi bagian custom yang tidak dipisahkan.
“Sarung adalah pakaian yang sangat fleksibel. Sarung bisa dipakai tidur, ngaji, jalan-jalan, ke pasar, apalagi ke masjid,” kata pengasuh Ponpes Al Ashriyah, Kiai Sadali Mawardi.
Terlebih, perawatan sarung dianggap tidak susah dibandingkan dengan jenis pakaian lainnya. Dalam kondisi apa pun sarung bisa dimanfaatkan. Ini sangat berbeda dengan jenis pakaian yang lain.
Karena hampir dalam semua aktivitas santri memakai sarung, maka pada umumnya mereka memiliki lebih banyak sarung dari pada celana panjang. Kebanyakan dari mereka mengenakan celana panjang kalau akan bepergian jauh atau pulang kampung.
“Apalagi kalau santri sowan ke kyai, tidak pernah terlihat satu pun santri yang mengenakan celana panjang. Harus pakai sarung,” tegasnya.
Fungsi sarung juga bermacam-macam. Di samping fungsi utamanya sama dengan celana, fungsi sarung fleksilbel. Bisa dipakai untuk ibadah di masjid, menghadiri undangan pengajian, resepsi dan pakaian keseharian di rumah. Gampangnya, sarung betul-betul simbol fleksibilitas.
Makna simbolis dari sarung atau sarungan ini adalah bagaimana santri juga bisa bersikap fleksibel bisa ada di mana-mana, bisa memegang peran apa saja dengan tetap memegang teguh ajaran agama sebagai landasan atau spirit menjalankan peran apa saja yang diamanahkan. “Tak heran, kalau sarung ini identik dengan santri,” ucapnya. (sas/bay)
Editor : Niklaas Andries