Radarbanyuwangi.id – Bagi generasi 80an, mungkin tidak asing lagi dengan serial boneka Si Unyil. Acara ini menjadi program televisi terpopuler kala itu. TVRI menjadi penyiar tontonan yang ditayangkan setiap hari Minggu mulai pukul 08.00 sampai 08.30.
Serial Si Unyil diproduksi oleh Produksi Film Negara (PPFN) yang dikreasi oleh Drs Suyadi. Film ini sejatinya memang ditujukan untuk segmen anak anak di masa itu.
Cerita yang disajikan menceritakan seorang anak sekolah dasar (SD) bernama Unyil. Tidak hanya menceritakan kehidupan di rumah bersama orang tuanya.
Film ini juga menceritakan petualangan Unyil bersama-sama teman-temannya. Sesuai namanya, film ini merujuk pada sosok pemeran utamanya yakni Unyil.
Unyil berati mungil atau kecil karena tokoh utamanya mungkin memang masih anak-anak. Unyil, tokoh utama dalam cerita "Si Unyil" digambarkan menggunakan peci dan selempang sarung dalam kesehariannya.
Pemandangan itu boleh jadi dianggap bagian identitas masyarakat Indonesia. Gambarannya lainnya, karakter Si Unyil juga diaktualisasikan sebagai good boy dengan yang tidak suka mencuri dan suka menolong.
Dalam pemaparan ceritanya, Si Unyil banyak menggambarkan keragaman dan budaya di Indonesia.
Meskipun ditujukan sebagai tontonan hiburan untuk anak, Si Unyil kerap menampilkan alur cerita yang kental akan pesan moral.
Pesan itu diantaranya budaya patriotisme, nasionalisme, pesan kesehatan, kepedulian terhadap lingkungan, ajakan untuk program keluarga berencana, seni, hingga budaya.
Tayangan ini juga menggambarkan tentang kehidupan sehari-hari semua karakter di sebuah kawasan perdesaan bernama Desa Sukamaju.
Desa yang majemuk dengan berbagai macam contoh kehidupan yang mengacu kepada kehidupan nyata.
Hidup layaknya anak Indonesia pada umumnya, Unyil tinggal bersama ayah, ibu, dan sepupunya.
Kepopuleran kartun Si Unyil membuat banyak anak-anak menirukan dialog-dialog dari cerita tersebut.
Tingginya perhatian penonton terlihat dari banyaknya atensi dan daya tiru dalam dialog dari film ini. Alhasil ini sekaligus menyadarkan bagaimana ampuhnya media televisi saat itu.
Dari sanalah lahir beberapa istilah populer seperti kata Hompimpah Alaium Gambreng. Berikutnya, beberapa tokoh legendaris juga lahir dari film ini.
Sebut saja Pak Raden yang sangat feodal dan perawakan suka marah. Begitu juga ada Pak Ogah dan sangat mahfum ditirukan oleh anak anak di zaman itu dengan kata, "Cepek dulu dong!".
Film Boneka Si Unyil tayang perdana di TVRI pada 5 April 1981. Tayangan ini berhenti tayang pada 21 November 1993.
Program film ini dipegang langsung oleh Drs Suyadi yang merupakan pembuat karakter Si Unyil. Dia juga yang menjadi sosok pengisi suara Pak Raden.
Si Unyil kemudian coba dibangkitkan kembali setiap Minggu pagi di pada tanggal 21 April 2002 hingga awal 2003.
Kemudian berpindah tayang lagi pada medio 2003 hingga akhir 2003 setiap Minggu pukul 16.30 WIB
Terakhir, cerita Si Unyil kembali tayang pada 2002-2003 oleh stasiun TV swasta dengan nama baru, Laptop Si Unyil. (*)
Editor : Niklaas Andries