Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Demam Anime Merambah Bumi Blambangan

Rahman Bayu Saksono • Minggu, 24 Maret 2024 | 14:30 WIB

PATUNG MUNGIL: Beberapa action figure yangbiasa dijadikan mainan anak-anak. Tak jarang, sebagian orang dewasa ada yang menjadi kolektor action figure sebagai barang memorabilia masa kecilnya.
PATUNG MUNGIL: Beberapa action figure yangbiasa dijadikan mainan anak-anak. Tak jarang, sebagian orang dewasa ada yang menjadi kolektor action figure sebagai barang memorabilia masa kecilnya.
Radarbanyuwangi.id - Sebagian kaum muda Banyuwangi ikut dalam aktivitas yang terkait dengan anime Jepang. Sekali waktu, mereka tampil di ruang publik saat liburan atau akhir pekan.

Tak bisa dipungkiri, anime Jepang telah memiliki penggemar di seluruh dunia. Tak terkecuali di Bumi Blambangan. Sesekali, sekelompok komunitas penggemar anime ini beraksi di ruang terbuka hijau (RTH) Taman Blambangan.  

Membahas tren ini, tak lepas dari sejarah anime klasik Jepang. Memang, anime klasik merupakan bagian integral dari warisan budaya Jepang. Di mana warisan buaya ini, telah mempengaruhi dan menginspirasi generasi penggemar di seluruh dunia.

Sejarah anime Jepang dimulai pada awal abad ke-20, dengan perkembangan teknologi animasi dan pengaruh budaya barat yang memasuki Jepang.

Sejarah anime tersebut di awal dari era sebelum tahun 1945. Sebelum Perang Dunia II, animasi Jepang terutama terdiri dari karya-karya yang lebih sederhana, seperti kartun pendek dan boneka animasi yang disebut "karakuri ningyō".

Namun, industri ini berkembang pesat seiring dengan masuknya film animasi Barat seperti karya-karya Disney dan Fleischer Studios.

Berikutnya, era Pasca-Perang Dunia II. Pada masa ini, industri animasi Jepang mulai tumbuh lebih kuat. Salah satu tokoh penting dalam periode ini adalah Osamu Tezuka, dikenal sebagai "bapak manga" dan "bapak anime".

Karyanya yang terkenal, "Astro Boy" (Tetsuwan Atom), ditayangkan perdana pada tahun 1963. Ini menjadi salah satu anime pertama yang sukses secara internasional. Astro Boy menetapkan standar untuk anime masa depan, dengan narasi yang lebih kompleks dan karakter yang mendalam.

Era selanjutnya adalah era 1970 – 1980. Masa ini merupakan era emas anime klasik Jepang. Serial seperti "Mobile Suit Gundam" (1979) dan "Space Battleship Yamato" (1974) muncul. Tema-tema kompleks dan cerita yang muncul pun lebih serius.

Mereka menargetkan audiens remaja dan dewasa. Studio-studio seperti Toei Animation dan Tatsunoko Production menjadi pusat produksi untuk anime-anime yang berpengaruh.

Periode berikutnya adalah era 1990-an. Pada masa itu, perkembangan teknologi komputer memberikan dampak besar pada industri anime.

Film seperti "Ghost in the Shell" (1995), yang disutradarai oleh Mamoru Oshii dan didasarkan pada manga karya Masamune Shirow, menggabungkan animasi tradisional dengan elemen-elemen cyberpunk.

Ini menunjukkan bahwa anime tidak hanya untuk anak-anak. Tetapi juga memiliki potensi untuk mengeksplorasi tema-tema filosofis dan sosial yang lebih dalam.

Yang terkini adalah era tahun 2000-an sampai sekarang. Pada era milenial ini, anime terus berkembang sebagai fenomena global. Serial seperti "Naruto" (2002) dan "One Piece" (1999) mencapai popularitas yang luar biasa di seluruh dunia.

Ini membuktikan, bahwa daya tarik anime terhadap berbagai kalangan usia. Selain itu, film-film seperti "Spirited Away" (2001) karya Studio Ghibli dan karya-karya Makoto Shinkai seperti "Your Name" (2016).

Tentu saja, semua itu   menunjukkan bahwa anime Jepang masih menjadi kekuatan kreatif yang sangat relevan dan berpengaruh di panggung internasional. (bay)

Editor : Niklaas Andries
#disney #jepang #naruto #one piece #anime