Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Lagu Selamat Hari Lebaran Karya Ismail Marzuki Ternyata Tak Hanya Berisi Ucapan Idul Fitri Saja, Berikut Makna Dalam Bait Lagunya

Niklaas Andries • Kamis, 21 Maret 2024 | 21:08 WIB

SEDERHANA: Suasana lebaran di kampung dengan segala kesederhanaannya
SEDERHANA: Suasana lebaran di kampung dengan segala kesederhanaannya
Radarbanyuwangi.id – Boleh jadi saat Idul Fitri tidak ada lagu yang lebih populer dinyanyikan atau diperdengarbunyikan selain lagu karya Ismail Marzuki ini. Berjudul Selamat Hari Lebaran, lagu ini bahkan dipakai backsound iklan bahkan program acara menyambut Idul Fitri.

Berikut penggalan lirik lagu yang populer tersebut  :

Setelah berpuasa satu bulan lamanya

Berzakat fitrah menurut perintah agama

Kini kita ber-Idulfitri, berbahagia

Mari kita berlebaran, bersuka gembira


Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan

Hilang dendam habis marah

Di Hari Lebaran

Ya, lagu yang ditulis Ismail Marzuki cukup popule. Kepopulerannya bahkan  sampai lintas zaman dan generasi hingga saat ini.  Lagu ini kali pertama direkam pada tahun 1954.

Berkat jasa Radio Republik Indonesia (RRI) di Jakarta lagu ini mampu terdokumentasi bahkan diputar tayang dan menyebar ke santero Indonesia dengan baik.  

Eksistensi lagu ini bahkan berlanjut hingga sekarang. Lagu ini sudah banyak diaransemen ulang oleh beberapa penyanyi tanah air. Disana Tasya, Gita Gutawa dan sejumlah band beken tanah air lainnya.

Dibalik momentum tahunan sebagai bentuk perayaan hari besar Agama Islam. Lagu Hari Raya Lebaran juga dikenal dengan kekuatan pesan yang ada didalam liriknya. Diantaranya, Ismail Marzuki mencoba menggambarkan cara orang Kota dan Desa dalam merayakan hari raya.

Simak baik-baiknya bait lagunya,  “Dari segala penjuru mengalir ke kota, Rakyat desa berpakaian baru serba indah, Setahun sekali naik trem listrik perei , Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore”.

Disambung dengan baik lanjutannya, Ismail Marzuki menulis mereka akhirnya memilih copot sandal dan sepatu karena kaki lecet.

Disini ada penggambaran budaya konsumtif masyarakat saat lebaran. Tidak hanya menyindir orang desa. Dia menyoroti gaya orang kota dalam merayakan lebaran. 

Dituliskan disana,”Kesempatan ini dipakai buat berjudi, Sehari semalam maen ceki mabuk brendy, Pulang sempoyongan kalah main pukul istri.”

Bait lagu itu sekaligus memberikan gambaran sosial masyakat kala itu. Kaum urban pada masa itu yang lekat dengan kekerasan dalam rumah tangga dam minuman keras.

Pada sisi lainnya, lagu ini  juga kental penggambaran kondisi Indonesia paska kemerdekaan. Saat menulis lagu ini di era 1950an, kondisi politik Indonesia sedang tidak stabil. 

Disanalah dia menyematkan sindiran dan kritik kepada pemerintah saat itu. Bahkan penggambaran yang dituangkan dalam lirik lagu sangat lugas dan tegas. Tengok saja liriknya dalam lagu tertulis, “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin”.

Syair merupakan sindiran dimana saat itu sebagian besar masyarakat Indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan.  Sindirin lain juga bisa ditemui dalam lirik bait, “Maafkan lahir dan batin, Lan taun hidup prihatin, Cari wang jangan bingungin, Lan syawal kita ngawinin”.

Sekadar tahu pada masa itu mencari pekerjaan bukan perkara mudah. Ekonomi negara sedang morat marit hingga hidup rakyatnya menjadi sulit.

Usaha perbaikan ekonomi negara memang sedang gencar dilakukan oleh pemerintah saat itu. Nyatanya banyak penyelewengan. Itu ditandai dengan banyaknya pejabat negara bergaya hidup mewah.

Di akhir bait, Ismail Marzuki menyindir merajalelanya praktek korupsi. Kritik itu tegas disampaikan pada dua baris terakhir lagu, ‘Kondangan boleh kurangin Korupsi jangan kerjain”.

Kerasnya lagu Ismail Marzuki ini membuat bait ini sempat menghilang misterius dari susunan lirik lagu ini saat masa Presiden Suharto. Lagu ini baru kemudian seolah hidup kembali dengan lirik full saat masa reformasi tiba.

Bahkan ini boleh jadi lagu pertama yang menampilkan lirik mengandung kata korupsi dalam syairnya di Indonesia.

Ismail Marzuki sendiri meninggal dunia empat tahun sejak lagi ini direkam. Dia meninggal pada 25 Mei 1958. Salah satu karya lainnya yang melegenda hingga kini adalah Mars Pemilu. Lagu yang sengaja diciptakannya untuk pesta demokrasi di tahun 1955.

Lalu bagaimana kesesuian isi lagu dengan realitas yang ada di negara saat ini. Masih sama ataukah sudah berbeda dari lagu ini diciptakan dari awal dulu ? (*)

Berikut bait syairnya :

Setelah berpuasa satu bulan lamanya

Berzakat fitrah menurut perintah agama

Kini kita ber-Idulfitri, berbahagia

Mari kita berlebaran, bersuka gembira


Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan

Hilang dendam habis marah

Di Hari Lebaran

Reff:

Minal Aidzin Wal Faidzin

Maafkan lahir dan batin

Selamat para pemimpin

Rakyatnya makmur terjamin

Dari segala penjuru mengalir ke kota

Rakyat desa berpakaian baru serba indah

Setahun sekali naik trem listrik perei 

Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore


Akibatnya tenteng selop

Sepatu terompeh

Kakinya pada lecet

Babak belur berabeh

Reff:

Maafkan lahir dan batin

‘Lan taon hidup prihatin

Cari uang jangan bingungin

‘Lan Syawal kita ngawinin


Cara orang kota berlebaran lain lagi

Kesempatan ini dipakai buat berjudi

Sehari semalam main ceki mabuk brendi

Pulang sempoyongan kalah main pukul istri


Akibatnya sang ketupat melayang ke mata

Si penjudi mateng biru dirangsang si istri

Reff:

Maafkan lahir dan batin

‘Lan tahun hidup prihatin

Kondangan boleh kurangin

Korupsi jangan kerjain

Editor : Niklaas Andries
#tasya #Lirik #Radio Republik Indonesia (RRI) #mabuk #mars #idul fitri #ismail marzuki #pemilu #Ceki #syawal #gita gutawa #agama islam #korupsi #pejabat negara #sindiran #pesta demokrasi #Presiden Suharto