Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Profil dan Kiprah KH Ali Makki Zaini, Ketua PCNU Banyuwangi Demisioner, Tampung Anak Broken Home di Pesantren

Ali Sodiqin • Rabu, 20 Maret 2024 | 18:04 WIB
Dok. Radar Banyuwangi  AKRAB: Gus Makki bersama santri saat merawat hewan peliharaan ayam, beberapa waktu lalu.
Dok. Radar Banyuwangi AKRAB: Gus Makki bersama santri saat merawat hewan peliharaan ayam, beberapa waktu lalu.

RadarBanyuwangi.id – Bagi warga Nahdliyin, tokoh yang satu ini dikenal sebagai salah satu tokoh yang getol dalam kajian ilmu fikih dan tata bahasa arab.

Namun tidak sedikit yang mengenal ayah tiga anak ini sebagai salah satu aktor perpolitikan di Banyuwangi.

Kendati demikian, pria yang tumbuh besar di dunia pesantren ini mempunyai sisi lain.

Sehari-hari, pria yang berulang tahun setiap 12 Desember ini memiliki rutinitas sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Hidayah, Dusun Rayut, Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono, Banyuwangi.

Selain itu, dia juga terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar.

“Untuk Nahwu Shorof, saya yang mengajar,” ujarnya kepada jurnalis Jawa Pos Radar Banyuwangi beberapa waktu lalu.

Gus Makki, begitu pria bernama lengkap KH Moh. Ali Makki Zaini ini akrab disapa, mengaku tidak ada yang istimewa dengan pesantren yang dia asuh. Baik dari jumlah santri maupun lainnya.

“Ya sama, santrinya juga tidak banyak, ngajinya juga sama,” begitu selorohnya.

Sedikit hal yang dia akui sedikit berbeda namun sering dipahami keliru oleh warga adalah mengenai kebiasaan makan di tempatnya.

Terkadang ada warga yang menganggap pesantrennya merupakan panti asuhan.

Namun dia menegaskan pesantrennya bukan panti asuhan. Hanya saja soal makan dia tanggung sendiri.

“Kalau makan memang saya yang nanggung,” ungkap suami Ny Aminatus Salamah ini.

Untuk menyiapkan makan, santri putrid memiliki jadwal memasak.

Dalam sehari, kebutuhan makan untuk para santri menghabiskan beras sebanyak 15 kilogram dan untuk belanja sekitar seratus lima puluh ribu rupiah.

“Dulu awalnya cuma delapan kilo, sekarang lima belas kilogram,” ungkapnya.

Dia menambahkan, hal itu bukan sesuatu yang luar biasa, karena banyak orang yang melakukan hal yang sama.

Bahkan, beberapa kali dia pernah hampir kehabisan persediaan beras.

Jika kondisi sudah seperti ini, dengan santai Gus Makki mengatakan salah satu solusi ya mengandalkan pinjaman.

“Ya, kalau pas kehabisan ya hutang di toko,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dia mengandalkan sumber berupa sawah yang dimiliki dan toko.

“Ada sumber kecil-kecilan, sawah dan toko,” jelasnya.

Terakhir, ayahanda Fairuz Maya Masithah, Mamluk Hikam Baya, dan Farah Waridatul Hasana ini berujar, mungkin yang membedakan tempatnya dengan tempat lain adalah manajemen yang masih sangat sederhana.

Pesantren yang dipimpinnya masih mengandalkan dirinya. “Masih sederhana, masih one man show,” tutur Gus Makki.

Menyadari kekurangan ini, perlahan dirinya mulai membiasakan manajemen koperasi kepada santrinya.

“Mulai sedikit belajar koperasi, untuk persiapan. kalau nanti saya mati bagaimana kalau mengandalkan saya saja,” tegasnya.

Tampung Anak Broken Home

Jika dilihat dari latar belakang santri yang menetap dan belajar di pesantren ini, kebanyakan merupakan usia tamat SMP dan SMA. Mereka rata-rata anak korban broken home.

“Enam puluh persen merupakan berasal dari keluarga yang pisah,” ungkapnya.

Dari hal ini, justru sering kali orang tua santri yang telah berpisah bisa tetap menjalin silaturahim saat menjenguk dan mengirim anaknya.

“Yang lucu mereka terkadang gantian menjenguk, masing-masing dengan pasangan barunya,” ungkapnya.

Selain itu, mereka yang memutuskan belajar di tempat ini memang sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.

“Mereka memang sudah tidak ingin sekolah sejak dari rumah,” ungkapnya.

Pernah, suatu ketika seorang santri diantar oleh orang tuanya untuk belajar di tempat ini, namun setelah mengetahui pesantren ini tidak memiliki sekolah formal mereka kemudian balik kanan.

“Dulu pernah, setelah sampai sini tahu tidak ada sekolah umumnya lalu tidak jadi, ya tidak apa-apa,” kenang alumnus Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, itu.

Selain itu, yang membuatnya terkadang juga bingung sendiri adalah seringnya pasangan suami istri yang sedang dalam masalah datang ke tempatnya.

Kendati demikian, dia mengaku ikut senang mana kala pasangan tersebut bisa kembaliu rukun dna harmonis.

“Kadang ada suami istri pejabat maupun yang main ke sini karena masalah rumah tangga, ya saya memberi penuturan sebisa saya,” jelas pengagum Gede Prama ini.

Hal ini pula yang membuatnya menjadi akrab dengan orang tersebut, seringkali keakraban dia dengan beberapa orang tertentu dianggap karena ada maksud.

Padahal awal mula keakraban tersebut justru dari pembicaraan yang menyangkut urusan sehari-hari seperti anak dan keluarga.

”Dari pembicaraan itu kita menjadi akrab dan raket,” pungkasnya. (sli/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Gus Makki #Bahrul Hidayah #pondok pesantren #profil #pcnu banyuwangi