Ceritanya yang menghibur dan memiiki tokoh kepahlawanan yang komplit. Dragon Ball mampu eksis dengan updgrade cerita dan perjalanan tokoh karakternya dan tetap digandrungi hingga kini.
Tapi penggemar anime Dragon Ball pernahkah merenung bila cerita film animasi ini memiliki kemiripan cerita dan tokoh dengan Sun Go Kong dalam film Journey to The West.
Ya, film yang menceritakan perjalanan Biksu Tong Sam Chong dalam mencari kitab suci ke barat bersama ketiga muridnya. Kita mengenal film ini dengan judul, Kera Sakti. Salah satu murid Biksu Thong memiliki kemiripan dengan karakter dalam Dragon Ball, Sun Go Kong.
Sun Go Kong lahir dari seorang sastrawan Tiongkok bernama Wu Cheng-en. Kisah ini merupakan campuran antara kepercayaan, cerita rakyat, dan imajinasi serta kreasi dari Wu sendiri.
Inspirasinya utama cerita Kera Sakti ini datang dari cerita karya Lee Gong-zuo di masa Dinasti Tang. Sedangkan Son Go Ku lahir dari karakter fiksi yang diciptakan Akira Toriyama.
Karakter Son Go Ku di adopsi dari Sun Go Kong dalam cerita The Journey to the West. Cerita dalam Dragon Ball masih ada unsur kehidupan pada umumnya di Jepang.
Sementara Sun Go Kong lebih bersumber dan mengangkat budaya serta kehidupan masyarakat Tiongkok dengan segala kepercayaannya.
Dari sini, menarik untuk dibahas apa saja sisi kemiripan karakter tokoh dan alur cerita dalam anime Dragon Ball dengan film Journey The West tersebut, diantaranya :
1. Nama karakter mirip, Sun Go Kong Versus Son Go Ku
Pada serial Kera Sakti karakter utamanya bernama Sun Go Kong. Sedangkan dalam Dragon Ball diberikan label nama Son Go Ku. Ada sedikit permainan huruf U dalam Sun dan Son. Lainnya permainan huruf O pada Kong dan Ku. Bagian nama tengah GO tetap. Ya sepintas jadi miriplah.
2. Keduanya sama-sama punya senjata tongkat sakti
Tongkat sakti kedua tokoh ini bisa berubah bentuk sesuai keinginan si empunya. Son Go Ku memperoleh tongkat ini saat masih kecil yang merupakan pemberian kakeknya. Dalam anime Dragon Ball senjata ini disimpan dipungung. Saat dalam bahaya tongkat sakti ini sering menjadi andalan dalam bertarung melawan musuh musuhnya.
Sedangkan Sun Go Kong memperoleh tongkat toya sakti dari Raja Naga Laut. Dengan senjata ini juga sering digunakan untuk bertarung melawan musuh-musuhnya.
Baca Juga: 'Kamehameha' Jurus Andalan Goku dalam Anime Dragon Ball Rupanya Terinspirasi Dari Sosok Ini
3. Son Go Ku dan Sun Go Kong merupakan jenis Kera
Sun Go Kong dalam film Journey The West digambarkan seratus persen kera. Bahkan dia menyandang sebagai Raja Kera dari Gunung Hwa Ko. Seperti halnya kera, Sun Go Kong juga punya ekor.
Sedangkan Son Go Ku diceritakan sebagai pendatang di bumi dari Planet Namec. Dia merupakan bangsa Saiya. Bangsa ini memiliki ekor layaknya kera. Ekor ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Wujud kera dalam diri Son Go Ku muncul saat bulan purnama tiba.
Dia akan berubah menjadi kera raksasa yang buas dan ganas. Untuk meredam keganasan kera raksasa ini, Jin Kura Kura harus memotong ekor Son Go Ku agarv kembali normal.
4. Keduanya Bisa terbang dan punya kendaraan berbentuk awan
Sun Go Kong dan Son Go Ku diceritakan memiliki kekuatan lain yakni bisa terbang. Meski demikian keduanya dianugerahi kendaraan berupa awan. Dalam anime Dragon Ball awan ini disebut dengan awan kinton.
Sun Go Kong dikisahkan pernah menaiki awan ini untuk pergi ke kayangan. Ini berbentuk putih dan bisa dikendalikan sesuka hati.
Sementara Sun Go Ku memndapat awan ini dari gurunya, Jin Kura-Kura. Dia menggunakan awan kinton ini untuk perjalanan jauh. Tidak semua orang bisa mengendarai awan ini. Sebab hanya orang yang hatinya bersih yang bisa mengendarai awan ini.
Jin Kura Kura memberikan awan ini kepada Son Go Ku karena dia tidak bisa menaikinya. Di tangan Son Go Ku awan ini tunduk dan begitu mudah dikendarai.
5. Son Go Ku dan Sun Go Kong pernah berbuat keonaran
Sun Go Kong sebelum bertemu Biksu Tong Sam Chong pernah mengacaukan isi Kayangan. Atas dosa itulah dia kemudian ditindih dalam gunung lima jari selama ratusan ribu tahun,
Dia kemudian ditemukan dan dibebaskan oleh Biksu Tong. Dan kemudian mengangkatnya menjadi murid dan bersama menuju barat.
Sedangkan Son Go Ku pernah berbuat keonaran. Itu diceritakan saat dia berubah wujud menjadi kera raksasa pas bulan purnama. Dia nyaris menghancurkan bumi sebelum ditangani dan diredam oleh gurunya, Jin Kura Kura.
6. Son Go Ku dan Sun Go Kong mampu ubah musuh jadi teman
Meski digambarkan awalnya sebagai kera yang liar. Sun Go Ku ternyata punya sifat yang welas asih. Tidak kepada sahabat tetapi juga musuhnya. Itu ditunjukkan dengan memilih bertema dengan dua musuh awalnya yang kemudian menjadi adik sepeguruan dalam mencari kitab suci ke barat.
Sebutlah nama Cu Pat Kay dan Wu Ching. Namun ada latar belakang yang berbeda antara keduanya tentang alasan para lawan ini berubah menjadi kawan perjuangan. para mantan musuhnya itu memiliki misi yang sama dengannya, yakni menemani biksu Tong Sam Chong untuk mengambil kitab suci ke barat.
Sedangkan Son Go Ku juga melakukan hal demikian. Beberapa lawan berubah jadi sahabat. Disana ada Siluman Kerbau bahkan dikemudian hari berubah menjadi mertua Son Go Ku sendiri dengan mengawini anaknya, Chi Chi.
Tensinhan, Raja Iblis Picollo, dan Vegeta semuanya menjadi sahabat. Karakter Son Go Ku yang selalu mengedepankan falsafah Jawa, menang tanpa ngasorake, (menang tanpa merendahkan pihak lain) menjadikan Son Go Ku bukanlah sosok pendekar kemaren sore.
7. Sun Go Kong dan Son Go terlibat dalam sebuah misi pencarian
Sun Go Kong memiliki misi utama yakni menemani Biksu Tong Sam Chong mencari kitab suci ke barat. Diperjalana dia diberikan misi melindungi gurunya dari ancaman orang dan siluman jahat. Berkat kesaktiannya dia mampu menuntaskan misinya tersebut.
Sementara Son Go Ku juga punya misi. Misi utamanya adalah mengumpulkan tujuh bola naga yang kemudian disebut dengan Dragon Ball. Bola ini memiliki keistimewaan khusus yakni bisa mengabulkan semua keinginan dari pemilik bola naga ini.
Kemiripan ini membuat Anime Dragon Ball maupun Journey The West semakin menarik. Akira Toriyama disini mampu mengembangkan karakter Son Go Ku dengan sangat apik. (*)
Editor : Niklaas Andries