Dari segi usia, Klenteng Tik Liong Tian menempati urutan kedelapan dari sembilan kelenteng dalam kategori kesamaan junjungan. Usia tertua dipegang Klenteng Hoo Tong Bio. Memasuki tahun 2024 ini kelenteng Tik Liong Tian akan berusia 109 tahun.
Lokasinya persis berada di depan Pasar Rogojampi. Soal pemberian nama kelenteng ini sendiri. Tik Liong Tian berasal dari kata Tik yang artinya bijak atau bijaksana. Dan, Liong diartikan sebagai simbol kebesaran raja. Dan kata Tian diartikan istana.
Disimpulkan Tik Liong Tian artinya Istana Kebesaran untuk raja yang bijaksana. Awalnya, klenteng ini merupakan tempat peribadatan pribadi milik Liem Kim Hong. Tempat ini baru mulai digunakan untuk klenteng sejak 1915.
Liem Kim Hong sendiri merupakan pedagang sekaligus tokoh spiritual. Pembangunan klenteng ini bermula dari ilham atau wangsit yang diterimanya saat tidur. Lewat mimpinya, dia diminta datang ke kawasan Watudodol. Disana dia menemukan dua benda yang menyerupai arca.
Arca batu diyakini memiliki aura supranatural seperti tergambar dalam mimpinya. Batu itu kemudian dibawa pulang. Energi yang dirasakan dalam batu itu diyakini sebagai energi murni dari Yang mulia Kong Co (Chen Fu Zhen Ren). Batu itu kemudian diletakkan di altar pemujaan.
Setelah meletakkan dua arca itu di meja pemujaan, banyak kemudian masyarakat khusus umat Tri Dharma yang datang ke rumah Liem. Mereka datang untuk berdoa dan meminta langsung keberkahan langsung dari Yang Mulia Kong Co. Maka sejak 1958, Kiem akhirnya merubah fungsi rumahnya menjadi klenteng untuk umum.
Dalam perkembangannya, klenteng in mengalami beberapa kali pemugaran. Termasuk melengkapi didalamnya dengan pernak pernik seperti klenteng pada umumnya. “Itulah sejarah perjalanan kelenteng ini,” beber Edi Suprapto salah satu pengurus Kelenteng Tik Liong Tian Rogojampi.
Perwajahan klenteng ini ditandai sejumlah ornamen. Diantaranya naga yang terpasang di setiap pilar bangunan yang disertai sepasang siok sai (singa) di depan. Masuk ke dalam terdapat altar Tian, Men Shen dan Hou Shen. Ada 16 patung dewa di kelenteng ini.
Di bagian depan ada sepasang ciok sai (singa). Masuk ke dalam mendapat altar Tian, Men Shen dan Hou Shen. Masuk ke bangunan utama disana ada altar pemujaan Yang Mulia Kong Co.
Disampingnya ada pengawalnya Co Fu Wei dan Yo Fu Wei. Disana juga ada altar untuk Xuan Tian Ziang Tie. Dibelakang altar utama, ada tiga altar guru agung yakni altar Budha, altar Thai Sang Lo Cin, dan altar Nabi Khonguchu.
Disana juga terdapat beberapa Shen Ming seperti Kwan Kong, Fu Tek Chen Zen, Tu Ti Kong atauTu Ti Bo, He He Erl Zian, Bodhisatva, dan 18 arahat. Keunikan klenteng disini adalah keberadaan Yang Mulia Kong Co.
Hal ini karena kelenteng ini masih satu sesembahan dengan Klenteng Hoo Tong Bio dan lainnya yang tersebar di Jawa, Bali, dan Lombok. Sosoknya merupakan Shen Ming bagi penduduk setempat. Banyak cerita dari masyarakat terkait Yang Mulia Kongco ini.
Tapi bagi sebagian umat Tri Dharma yang perlu diingat bukan lah apa yang telah dilakukannya. Melainkan ajaran beliau yang banyak diresapi dan diingat oleh umatnya. Dalam sebuah bait tulisan yang tertera di rupang atau patung pengawal Yang Mulia Kong Co.
Itu menunjukkan sifatnya yang bijak. Ini dapat diartikan bahwa sosok Yang Mulia Kongco merupakan figur yang tegas dan tegas. Dia dapat membedakan mana kebaikan dan kejahatan. (*)
Editor : Niklaas Andries