Menurut kepercayaan masyarakat Tiongkok, barongsai yang digambarkan sebagai penjelmaan singa ini memiliki arti tersendiri.
Keberadaannya menggambarkan simbolisasi keberanian, kekuatan, kebijakan, dan keunggulan.
Pertunjukan barongsai sendiri memiliki beberapa fungsi. Di antaranya sebagai perayaan ritual itu sendiri seperti saat perayaan Tahun Baru Imlek.
Kesenian Barongsai dalam fungsi ini untuk mengusir Nien (Naga), yang karena dipercaya dapat menimbulkan keburukan. Satu satunya cara menghalaunya dengan mengarak barongsai.
Fungsi lainnya bisa sebagai sarana hiburan, ekonomi, pendidikan, dan komunikasi. Pertunjukan barongsai biasanya dimainkan dalam satu tim.
Rinciannya, dua pemain berperan sebagai boneka barongsai. Sisanya sebagai penabuh tambur (drum) satu orang, lhin (gong) satu orang, dan Jik (Simbal) dimainkan dua orang.
Sementara itu, tambur terbuat dari kayu yang terbentuk seperti gendang besar yang dilapisi dengan kulit. Alat musik ini berfungsi untuk mengatur tempo.
Cara memainkan dengan cara dipukul bagian tengahnya dengan pemukul kayu. Bunyi yang dihasilkan terdengar seperti, “thek... thek... dheng... dheng...”
Selanjutnya, ada alat musik lhin yang terbuat dari tembaga. Biasanya alat ini memiliki ukuran sekitar 20 cm x 30 cm. Alat ini mirip gong yang tengahnya ada benjolan. Alat in fungsinya sebagai pengiring.
Cara memakainya dengan dipukul kayu. Bunyi yang dihasilkan terdengar seperti, “dhung... dhung...”.
Yang terakhir adalah alat musik jik. Alat ini terbuat dari bahan tembaga yang berjumlah dua pasang. Alat
berfungsi sebagai pengatur irama.
Cara mainnya mirip dengan memainkan simbal. Bunyinya terdengar seperti, “ches... ches...”.
Untuk menampilkan atraksi yang menarik, dibutuhkan kolaborasi antara pemain barongsai dan para penabuh musik. Dalam memainkan dibutuhkan dinamik dan tempo yang pas.
Misalnya saat barongsai dalam gerakan berjalan, bergerak meliuk, memainkan ayunan kaki, bahkan saat barongsai melompat. Semua gerakan itu membutuhkan harmonisasi dengan suara musik yang dimainkan.
Sedangkan bagi pemain barongsai. Dibutuhkan skill yang cukup mumpuni.
Setidaknya pemain memiliki kemampuan dasar bela diri seperti pencak silat atau kung fu. Dibutuhkan kekuatan fisik yang prima untuk bisa memainkannya.
Pemain barongsai juga harus memiliki kekuatan otot paha, kaki, dan kekuatan lengan yang memadai.
Sebab dalam atraksi, gerakan yang dimainkan banyak melibatkan gerakan kaki yang cepat, kuat, dan tetap seimbang.
Misalnya ada gerakan yang menuntut pemainnya naik ke atas bahu pasangan dengan kedua kaki.
Lalu, ada gerakan tan dui, yakni pemain barongsai berdiri dengan satu kaki, sedang kaki satunya lagi mengais ke depan.
“Itulah kenapa pemain barongsai perlu menjaga dan melatih kekuatan tubuh dan stamina yang baik,” pungkas Tommy Yong, salah satu pengurus Klenteng Tik Liong Tian, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. (nic/bay)
Editor : Niklaas Andries