Tahun baru Imlek di Indonesia, dirayakan dengan ragam corak dan ciri merunut tradisi leluhur dan akulturasi budaya setempat.
Mulai pernik hiasan, makanan, hingga pelaksanaan perayaan, semua jadi daya tarik yang eman untuk dilewatkan.
Yang bisa diamati, perayaan Imlek sangat kental dari dominasi warna merah dan kuning emas.
Saat kedua warna ini dibandingkan dominasi warna lebih banyak adalah merah. Bukan tanpa sebab warna menjadi trade mark dalam setiap perayaan imlek.
Dalam kacamata perayaan imlek dan kepercayaan masyarakat keturunan Tiongkok, warna merah merupakan simbolisasi pembawa keberuntungan, kebahagiaan, dan kekayaan.
Sedangkan warna kuning emas, memiliki arti sebagai pusat dari segalanya. “Warna merah itu melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan. Merah jadi dominan saat perayaan Imlek karena berharap keberkahan,” ujar Tommy Yong, salah satu pengurus Klenteng Tik Liong Tian, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.
Ngalap berkah atas penggunaan warna merah inilah yang kemudian tergambar jelas dalam ragam pernak pernik imlek seperti pakaian, lampion, hingga amplop (angpao).
Alhasil perayaan ini Imlek tampak lebih semarak dengan kelir ngejreng dari warna merah dan paduan kombinasi kuning emas tadi.
Perayaan Imlek jarang ditemui warna selain merah dan kuning emas. Ini tidak lepas dari kepercayaan masyarakat Tiongkok soal warna.
Misal seperti warna putih yang dikaitkan dengan kematian atau pun kondisi berkabung.
Juga warna hitam. Warna ini diasosiasikan dengan kejahatan maupun kesedihan. Di dalamnya terkandung juga keburukan, ketidak-teraturan, dan ilegalitas.
Tak ayal, dominasi warna merah dalam perayaan imlek ini merupakan wujud ungkapan syukur atas rezeki yang telah diberikan selama tahun sebelumnya.
Ke depannya, mereka yang merayakan Imlek, momen ini bisa menjadi titik tolak harapan lebih baik dan berkah dalam mengarungi satu tahun ke depan. (nic/bay)
Editor : Niklaas Andries