Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ini Umpatan Bahasa Jawa yang Kerap Terdengar, 'Ndasmu' Di Antaranya

Fredy Rizki Manunggal • Selasa, 19 Desember 2023 | 20:11 WIB

Ilustrasi mengumpat
Ilustrasi mengumpat

RadarBanyuwangi.id - Kata umpatan atau pisuhan dalam bahasa Jawa kerap terdengar dalam bahasa percakapan sehari-sehari. Dalam bahasa Jawa umpatan muncul sebagai ekspresi spontan.

Entah itu karena kecewa, marah, kaget, gembira, hardikan atau keheranan. Yang semuanya diekspresikan dalam pisuhan.

Menurut Kamus Basa Jawa (2001), pisuhan adalah tembung utawa tetembungan kasar utawa pepoyok sing saru. Yang berarti kata-kata kasar, olokan yang tidak sopan.

Kata pisuhan dalam bahasa Jawa sendiri dikelompokkan dalam beberapa kosa kata yang berkaitan dengan bagian tubuh, profesi, makanan, benda, nama binatang dan beberapa hal lainya yang berkonotasi buruk. Berikut beberapa umpatan yang kerap diucapkan dalam bahasa Jawa.

1. Asu

Umpatan ini merujuk kepada nama hewan yaitu Anjing. Biasanya, umpatan ini digunakan saat marah atau terkejut. Tak hanya anjing, nama hewan lain seperti babi, jangkrik, boyo (buaya) juga kerap digunakan dalam umpatan.

2. Jancuk

Sejarah umpatan jancuk memiliki banyak versi, tapi mengutip dari repositori Universitas Brawijaya (UB). Prof Dr Suyono, M.Pd menjelaskan mengenai bahasa kasar  atau makian, jancuk terbentuk dari kata diancuk yang dalam bahasa Jawa yaitu jalok (minta) dan diencuk (bersetubuh). Kata tersebut terdengar vulgar. Oleh sebab itu, kata jancuk menjadi kata kotor yang digunakan sebagai kata umpatan maupun makian.

3. Bajingan

Dikutip dari berbagai sumber,bajingan dulunya eksis digunakan untuk menyebut kusir gerobak sapi. Saat itu, gerobak sapi menjadi transportasi umum yang telah ada sejak era kekuasaan Mataram Islam pada abad ke-16 Masehi.

Bajingan merupakan suatu profesi kusir gerobak sapi, sekaligus warisan kearifan lokal masyarakat. Bahkan, bajingan adalah moda transportasi paling disukai para masa kerajaan Mataram Islam.

Bajingan yang memanfaatkan tenaga sapi ataupun kerbau ini kerap terlambat menjemput para pelanggannya.

Kerap kali karena para calon penumpang mengeluh setelah lama menunggu. Seringnya keluhan-keluhan tersebut dilontarkan, menjadikan kata "bajingan" mengalami pergeseran makna. Kini bajingan kerap diucapkan untuk menyampaikan kekecewaan.

4. Ndasmu

Umpatan satu ini merujuk pada nama anggota tubuh. Sama dengan umpatan lain seperti matamu, cocotmu, utekmu yang juga kerap digunakan. Umpatan "Ndasmu" mendadak ramai dibicarakan setelah capres nomor urut dua Prabowo Subianto mengucapkan kata "Ndasmu Etik" dalam agenda internal partai Gerindra

Selain sebagai umpatan kekesalan atau kemarahan, umpatan ini juga bisa diartikan sebagai candaan bagi lawan bicara yang mempunyai relasi jarak dekat.

Sehingga bisa diartikan, penggunaanya  bersifat subjektif dengan lawan bicara, yang bisa melakukan perubahan arti kata umpatan kasar menjadi sebuah candaan sesuai dengan hubungan yang dibangun oleh lawan bicara atau situasi yang terjadi.

Umpatan dengan anggota tubuh yang lebih ekstrim juga sering digunakan. Biasanya menggunakan nama kelamin baik pria atau wanita. 

5. Goblok

Penggunaan umpatan satu ini nyaris sama dengan ungkapan yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Goblok sendiri berarti bodoh. Tak hanya dalam bahasa Jawa, umpatan ini kerap muncul untuk menyampaikan kekelasan yang biasanya diungkapkan seorang juragan kepada bawahanya. 

Editor : Fredy Rizki Manunggal
#umpatan #prabowo #Ndasmu