RadarBanyuwangi.id – Baju adat menjadi salah satu identitas masyarakat daerah tertentu. Tidak terkecuali di Bumi Blambangan, yang terkenal sebagai daerah yang sendi kehidupan warganya kental akan budaya.
Baju adat suku Oseng menjadi salah satu identitas masyarakat Banyuwangi. Pembawaan yang rendah hati dan simpel menjadi bentuk penggambaran kehidupan di Bumi Blambangan.
Baju adat tersebut dikenakan oleh berbagai kalangan dan profesi. Mulai dari dewasa hingga anak-anak. Baik laki-laki maupun perempuan.
Bupati, perwira, guru, maupun tukang parkir, semua tak canggung bertugas dengan penutup kepala udeng.
Ketua Dewan Kesenian Banyuwangi (DKB) Hasan Basri membenarkan baju adat suku Oseng dapat dikenakan oleh berbagai kalangan.
Hal itu menjadi bukti bahwa baju adat ini tidak membedakan status masyarakat atau kasta.
Seluruh masyarakat dianggap memiliki kedudukan yang sama. Tidak ada perbedaan yang menunjukkan status masyarakat bahkan tingkat lainnya.
”Pada baju adat tidak membedakan struktur sosial bangsawan, masyarakat biasa, dan lainnya. Jadi, siapa pun yang mengenakan baju adat Oseng dia melebur jadi masyarakat setara,” ujar Hasan.
Hal itu menjadi bukti kesederhanaan suku Oseng dalam kesehariannya. Yaitu, tidak membawa status sosial dalam berpakaian.
”Tidak menghendaki penanda yang membedakan status orang. Suku Oseng itu masyarakat egaliter dan unsur keraton tipis dalam jangka waktu yang lama,” tandas Hasan. (rei/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin