RadarBanyuwangi.id – Gandrung merupakan salah satu seni pertunjukan tradisi yang populer di Banyuwangi. Pertunjukan ini didukung instrumen musik daerah, yang dilengkapi dengan biola (viol) khas musik Suku Oseng.
Antropolog Belanda, John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi (1927), kemunculan gandrung berkaitan dengan pengangkatan Mas Alit sebagai bupati dan pembabatan hutan untuk dijadikan ibukota baru Kerajaan Blambangan.
Gandrung berfungsi sebagai hiburan sekaligus ritual mohon keselamatan dari marabahaya penunggu hutan. Namun ada juga pendapat bahwa kemunculan gandrung berkaitan erat dengan Seblang, salah satu ritual suku Oseng. Ritual ini digelar untuk keperluan bersih desa dan tolak bala.
Sementara menurut Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi dalam Seblang dan Gandrung, tari seblang mirip dengan tari Sang Hyang di Bali, yang di masa lalu ditemui juga di Banyuwangi dengan sebutan tari Sanyang.
Terdapat beberapa instrumen unsur-unsur gamelan yang digunakan untuk iringan musik Gandrung Banyuwangi, antara lain: kendang, ketuk, kempul, gong, kluncing (triangle), angklung, dan saron.
Namun, dalam perkembangannya, instrumen biola dimasukkan sebagai tambahan musik iringan dalam seni pertunjukan gandrung bersama dengan masuknya kebudayaan barat yang dibawa pada masa kolonial Belanda.
Komisi Musik Tradisi Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Juwono mengatakan, pola permainan instrumen biola pada iringan Gandrung Banyuwangi mempunyai ciri khas tersendiri yang sangat berbeda dengan pola permainan instrumen biola pada musik barat.
Dalam perkembangannya, instrumen biola menjadi salah satu instrumen pokok pada seni karawitan Banyuwangi pada umumnya dan seni pertunjukan gandrung pada khususnya, sehingga instrumen biola dianggap penting dalam musik iringan seni pertunjukan musik karawitan Banyuwangi.
Menurut Juwono, dalam sejumlah literatur biola alat musik dari Eropa, mulai dipakai sekitar abad ke-19. Ceritanya, ada seorang warga Eropa menyaksikan pertunjukan gandrung, kemudian nimbrung dengan memainkan biola yang dibawanya.
Irama dari biola itu membuat masyarakat sekitar terkesima. Sejak itulah biola digunakan dalam setiap pementasan tari gandrung. “Penambahan unsur dari barat ini, tentu saja membuat iringan musik gandrung semakin tajam dan berwarna,” jelasnya.
Jaap Kunst dalam Music in Java (1937) menyebut penggunaan biola sebagai musik pengiring gandrung terjadi belum begitu lama. Biola menggantikan alat musik yang disebutnya sebagai “shawms” –sebuah alat musik kuno dengan dua buluh, yang merupakan bentuk mula dari oboe sejenis serunai, terompet, atau bahkan seruling.
Sejak itu, biola mulai menggeser seruling karena dapat menghasilkan nada-nada tinggi yang tidak mungkin dikeluarkan oleh seruling.
Sementara itu, Haidi bing Slamet salah seorang musisi yang juga pemain biola gandrung mengaku, secara umum biola yang digunakan dalam seni pertunjukan gandrung tidak jauh beda dengan biola pada umumnya. Hanya, yang membedakan adalah teknik memainkannya.
Kehadiran seorang pemain biola berperan sangat penting dalam setiap pertunjukan gandrung. Ia mempunyai fungsi sebagai pembawa melodi pada tiap gending yang dinyanyikan. Hal ini membuat pertunjukan gandrung tak bisa dipisahkan dengan instrumen biola.
Semua alat musik memiliki fungsi masing-masing. Namun, secara keseluruhan, gabungan instrumen alat musik pada gamelan Banyuwangi menjadikan pertunjukan tari gandrung begitu hidup dengan iringan suara gamelan ini.
Kendang yang menghentak-hentak, gong serta kenong bertalu-talu, gesekan biola yang menyayat, dan dentingan kluncing yang tinggi, semuanya seakan-akan mengajak para pendengarnya agar segera datang untuk menyaksikan tarian gandrung yang memesona. (ddy/bay)
Editor : Ali Sodiqin