Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Eksis Sejak 1985, Produsen Gitar di Banyuwangi ini Sebulan Bisa Memproduksi 200 Unit

Gareta Yoga Eka Wardani • Minggu, 23 Juli 2023 | 17:00 WIB
ORIGINAL: Gitar buatan lokal dipajang di kawasan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi.
ORIGINAL: Gitar buatan lokal dipajang di kawasan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id – Bumi Blambangan sudah lama memiliki produsen gitar lokal. Produsen gitar Banyuwangi sudah eksis sejak tahun 1985 silam.

Hingga kini, produsen gitar lokal itu tetap mampu bertahan. Industri gitar lokal ini didirikan oleh Suwanto. Dia memproduksi gitar jenis akustik dan elektrik.

Dalam sebulan, Suwanto mampu memproduksi hingga ratusan gitar. Baik jenis akustik maupun gitar elektrik.

”Rata-rata satu bulan bisa 200 gitar. Kalau pembuatan gitar elektrik lebih lama dibandingkan yang akustik. Jadi dalam sebulan paling mampu membuat 50 gitar elektrik,” ujar bapak dua anak itu.

Berawal dari keinginannya, Suwanto merintis bisnis pembuatan gitar tersebut secara otodidak. Hanya bermodalkan mencatat kesalahan setiap membuat gitar, membuatnya kini mampu bertahan dengan bisnis tersebut selama puluhan tahun.

Namun, kendala dalam mengembangkan produksi gitar pasti terjadi. Suwarno mengatakan, akibat adanya pandemi Covid-19 jumlah pesanan gitar mengalami penurunan. Meski tidak signifikan, Suwarno tetap bersyukur lantaran masih mampu bertahan hingga kini.

Mengingat banyak produsen gitar yang harus gulung tikar semenjak pandemi Covid-19. ”Di luar kota banyak yang tutup dan di Banyuwangi juga ada. Satu tahun pertama pandemi memang penjualan gitar masih ramai. Namun, terus menurun hingga banyak yang tidak mampu bertahan,” katanya.

Puluhan gitar yang terpajang di rumahnya menunjukkan produksi gitar lokal masih digandrungi masyarakat. Tidak hanya para kawula muda, melainkan berbagai rentang usia mulai tertarik untuk menggandrungi permainan gitar ini.

Bahan yang digunakan olehnya atara lain ada triplek siprus yang diimpor dari Tiongkok dan Kanada. Lalu, kayu mahoni dan sono keling dari lokal. Serta kayu maple yang harus diimpor dari Kanada. Sementara untuk gitar elektrik menggunakan kayu balok.

Ciri khas dari gitar tersebut adalah suara yang dikeluarkan lebih kuat dan penuh. Serta ketika pemain menekan senar gitar tidak merasakan rasa sakit. Sebab, sinar yang dipakai berkualitas tinggi beserta bahan dasar pembuat gitar.

”Sebelum pandemi, pesanan bisa mencapai ratusan unit. Tapi setelahnya, hanya berkisari puluhan unit. Sekarang mulai pulih kembali, dan semua kalangan memilih untuk mencoba bermain gitar,” lanjutnya.

Harga setiap jenis gitar pun bervariasi. Bergantung dengan ukuran dan jenis bahan yang digunakan. Yaitu mulai Rp 500 ribu hingga paling mahal dibandrol Rp 4 juta. (rei/bay)

Editor : Ali Sodiqin
#Elektrik #gulung tikar #kayu #gitar #covid-19 #Bisnis #industri #musik #harga