Lapangan kebanggaan warga Desa Jajag itu pernah memiliki masa terbaik. Sebagai tempat latihan sepak bola, tujuan berkumpul, dan fungsi lainnya. Yang paling ramai, tentu saja sebagai tempat kumpul lomba gerak jalan tradisional Agustusan.
Selain itu, Lapangan Jajag juga pernah berjaya ketika digunakan sebagai arena pertandingan sepak bola. Hingga kini, loket karcis di pintu gerbang depan stadion tersebut masih berdiri kokoh.
Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda, Lapangan Jajag nyaris vakum dari berbagai kegiatan. Meski tidak seramai dulu, Lapangan Jajag tetap difungsikan oleh masyarakat sekitar. Seperti pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi pekan lalu, Lapangan Jajag digunakan warga untuk tempat parkir mobil dan truk.
Luwis Goestafo Al Gofur, 22, warga Desa Jajag, Kecamatan Gambiran mengaku, penggunaan lapangan itu kini mulai berkurang. ”Kalau dulu sering ada kegiatan di lapangan ini,” ujarnya.
Meski demikian, Luwis tidak menampik bahwa Lapangan Jajag masih dimanfaatkan oleh warga sekitar hingga kini. ”Beberapa waktu lalu sempat diadakan bazar makanan. Selain itu, ada kegiatan lain seperti pesta demokrasi ketika menjelang pemilu. Ada juga kegiatan pasar malam serta aktivitas olahraga masyarakat setempat,” jelasnya. (cw4/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono