Anjing pasukan K-9 memiliki keahlian khusus. Tiga ekor di antaranya didatangkan dari Belanda pada tahun 2017 lalu. Satwa tersebut diambil langsung di Bandara Juanda Sidoarjo. ”Tiga ekor anjing pelacak ini memiliki keahlian yang berbeda. Ada yang khusus untuk pelacak umum, penjinakan bahan peledak (jihandak), serta narkoba,” ungkap Aipda Galih Budiarta, personel K-9 Satuan Samapta Polresta Banyuwangi.
Menurut Galih, kemampuan pelacak umum dimiliki personel K-9 bernama Kim. Anjing jantan ini merupakan keturunan ras Belgian Malinois dan Herder. Sedangkan anjing Ciro, memiliki keahlian di bidang pelacakan bahan peledak (handak). Satwa yang satu ini adalah keturunan ras German Shepherd Dog (GSD). Sedangkan pelacak khusus narkoba dikuasai personel K-9 keturunan ras Malinois bernama Qoell.
”Ketiganya mendapatkan uang lauk pauk yang besarannya cukup tinggi. Makanan dan minumannya harus terjaga karena tidak sembarang makanan bisa dihidangkan sebagai santapan setiap harinya,” jelas Aipda Galih.
Selain Galih, ada Briptu Donli Indrianto dan Bripda Putu Ardi Saputra personel yang bertugas menjaga dan mengoperasikan pasukan K-9. Aipda Galih Budiarta bertugas sebagai pengendali Ciro yang memiliki keahlian di bidang pelacakan bahan peledak.
Sementara itu, Briptu Donli Indrianto kebagian peran menjaga Kim selaku pelacak umum. Anjing Qoell merupakan rekan sejawat Bripda Putu Ardi Saputra untuk melacak narkoba. ”Semua instruksi kepada anjing menggunakan bahasa Inggris. Soalnya anjing ini tumbuh dan terlatih di Belanda. Tiga personel K-9 yang kami miliki merupakan produk impor,” jelas Galih.
Seperti polisi yang lain, personel satwa juga wajib menjalani latihan rutin. Setidaknya, tiga kali dalam seminggu. Latihan bertujuan untuk meningkatkan kepekaan tiga anjing pasukan K-9 kala menjalankan pelacakan di arena demo, sterilisasi bangunan atau rumah ibadah, serta pencarian barang bukti narkoba.
Tiga personel K-9 yang dimiliki Polresta Banyuwangi merupakan hasil bantuan langsung dari Mabes Polri. Kepolisian di Bumi Blambangan mendapat jatah lantaran menjadi wilayah penyangga Pulau Bali yang merupakan destinasi pariwisata internasional. Padahal, yang biasanya mendapat bagian pasukan K-9 yaitu setingkat Polda.
Dalam perkembangannya, imbuh Galih, anjing tersebut berkembang biak melahirkan satu anak bernama Hilda yang kini berusia empat tahun. Anjing Hilda memiliki spesifikasi pengendalian masa (Dalmas) untuk huru-hara. ”Personel K-9 ini sering bertugas jika dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Mereka mendapat perawatan yang baik dan sesuai prosedur sehingga jika sewaktu-waktu diperlukan untuk membantu tugas kepolisian di lapangan, Unit K-9 sudah siap,” tandasnya. (ddy/bay/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha