Sandal kelompen atau bakiak terbuat dari kayu. Sandal jenis ini sudah jarang digunakan masyarakat sebagai bagian dari mode busana. Penggunaannya sangat terbatas pada masjid, surau, musala sebagai sandal wudu, pesantren, dan petani ketika menyiangi sawah.
”Kalau dulu, sandal kelompen ini dijual untuk umum dan banyak ditemukan di pasar tradisional,” ujar Satriyo Wibowo, pemilik sandal kelompen di Banyuwangi.
Sandal ini oleh masyarakat Jawa juga biasa disebut sandal ”teklek”. Sebutan ini didasarkan pada suara yang dihasilkan, karena sandal ini mengeluarkan bunyi teklak-teklek saat dipakai berjalan. Istilah lain yang digunakan masyarakat Jawa Timur adalah kelompen. Berasal dari bahasa Belanda untuk menyebut sepatu kayu yang digunakan para pekerja.
Sandal kayu ini diperkirakan dibawa oleh orang-orang Cina Utara yang merantau ke selatan di masa Dinasti Tang yang merupakan orang Tang-lang di Hokkian pada abad 8. Dari perantauan orang Tang-lang ke Nan Yang atau Asia Tenggara, maka terbawalah bakiak yang pada umumnya sebagai alas kaki para wanita atau nyonya.
Semula, bakiak dihiasi dengan gambar lukisan bunga-bunga yang cantik. Menempel di kaki para bangsawan zaman Dinasti Han. Bakiak sering dikaitkan dengan legenda Ji Zietui di masa Dinasti Zhou. ”Kalau kelompen yang dijual, pada bagian kayunya juga masih banyak yang dicat bunga warna-warni,” kata Satriyo.
Ketika masuk ke Indonesia, bakiak yang mewah itu ”turun kelas” menjadi sandal para pekerja, petani, dan kaum santri. Kelompen dibuat dari kayu ringan dan diberi tali dari bekas ban untuk tempat jari kaki. Sederhana, murah, dan awet, merupakan faktor mengapa sandal ini populer di kalangan masyarakat bawah.
”Sandal kayu ini digunakan untuk wudu karena lumayan tinggi permukaannya dan tidak licin saat terkena air. Sehingga, tidak mudah kotor usai melaksanakan wudu agar tetap suci,” tandas Satriyo. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono