SEBUAH peristiwa yang kurang menyenangkan terkadang justru menjadi momentum perubahan positif yang mengubah kehidupan seseorang. Hal itu tampaknya berlaku pada kehidupan Eny Setiawati, 41, sebelum akhirnya menjadi sosok wanita yang cukup eksis dalam dinamika kehidupan sosial politik di Kabupaten Banyuwangi.
Tahun 2012 lalu, ibu dua anak itu mengalami banyak permasalahan kehidupan yang bertubi-tubi. Mulai dari kasus percerian yang mengandaskan pernikahannya. Lalu berlanjut pada perebutan harta gono-gini. Tak selesai di situ, Eny sempat harus menghadapi kasus narkoba yang menimpa keluarganya.
Rentetan kasus itu akhirnya membuat wanita yang akrab disapa Eny Laros itu mulai berpikir jika dirinya tak bisa terus-menerus diam. Di tengah statusnya sebagai single parent, Eny mencoba keluar dari titik aman. Berbekal ijazah S-1 hukum yang sudah dimiliki sejak lulus dari Fakultas Hukum Untag, Eny kemudian mengambil Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) di Unej Jember pada tahun 2015.
Selanjutnya Eny mulai terjun langsung ke dunia pengacara. Di sanalah dia merasa dirinya bisa survive. Selain memiliki benteng diri agar tak lagi menjadi korban dalam kasus hukum, Eny juga bisa membantu orang-orang yang memiliki nasib sama seperti dirinya. ”Saya percaya wanita harus terus mengembangkan diri, menguasai banyak hal, terutama hukum. Banyak hal dalam kehidupan kita yang bersinggungan dengan hukum,” kata Eny.
Selama berkarir sebagai pengacara, Eny menjalani banyak persidangan untuk membela klien-klienya. Termasuk membela Hendrik Tibboel, warga negara Belanda yang lolos dari hukuman mati ketika tersangkut kasus pembunuhan di Banyuwangi.
Lama sebagai pengacara tak lantas kemudian membuat Eny menjadi puas. Dia melihat ada banyak batasan yang masih mengurung dirinya. Sehingga tak bisa membuatnya leluasa terutama untuk membantu masyarakat luas.
Akhirnya, wanita yang eksis di media sosial Facebook itu mulai menapaki jalur politik. Eny turun sebagai tim sukses di beberapa pemilihan. Mulai dari Pilkada Jatim sebagai timses Khofifah-Emil, kemudian timses Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019, sampai yang terakhir menjadi bagian dari timses Ipuk-Sugirah pada Pilbup Banyuwangi. ”Ada keuntungan tersendiri ketika masuk timses dan menang. Minimal kita tidak punya sekat untuk berbicara langsung dengan pimpinan daerah, itu memudahkan kinerja juga di lapangan,” tuturnya.
Di samping dunia politik, Eny juga mulai aktif di lini dunia ormas selama satu setengah tahun terakhir. Dinamika sosial mulai pendidikan, ekonomi, hingga illegal mining menjadi concern Eny. Melalui ormas Srikandi Pemuda Pancasila, Eny mengkritisi kebijakan tambang ilegal yang menurutnya mulai banyak menjamur dan merusak lingkungan di Banyuwangi. ”Saya akan terus menyoroti. Jadi tidak berhenti setelah jadi timses, ketika ada yang tidak beres terutama di tengah masayrakat, kita juga bisa tetap mengkritisi dari jalur ormas,” tegasnya.
Sekeras-keras Eny bersuara, dia tetaplah seorang perempuan yang perasa. Eny tak memungkiri terkadang dirinya merasakan tekanan yang cukup tinggi dari aktivitas yang dipilihnya. Satu-satunya hal yang dilakukan wanita yang mudah dikenali dengan rambut pirangnya itu adalah melakukan self healing.
Setiap merasa tertekan, Eny akan menghabiskan waktu satu sampai dua jam untuk sekedar ngopi atau karaoke sampai emosinya pudar. ”Tidak mungkin kan membawa masalah ke rumah. Yang di luar tetap di luar, kalau pulang harus seperti mama yang biasanya,” ucapnya tersenyum.
Setelah menjajaki banyak hal mulai hukum, politik, hingga dunia ormas, Eny mulai didorong untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan di Banyuwangi. Minimal, wanita yang menjadi bagian dari Bidang Advokasi dan Hukum Partai Nasdem itu bisa memperjuangkan aspirasinya dan masyarakat dengan lebih leluasa. Terkait munculnya tawaran tersebut, Eny hanya tertawa menanggapi. ”Mengikuti angin saja,” pungkasnya sembari mengibas tangan.
Editor : Ali Sodiqin