BANYUWANGI - Potensi besar mancingmania, dilirik pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banyuwangi. Barang bekas pun disulap menjadi umpan pancing metal jig yang sukses menembus pasar nasional.
Siapa sangka, ternyata timah bekas dari pedagang besi tua masih bisa jadi mengasilkan pundi-pundi rupiah. Di tangan Agus Achmad Hanief, 30, warga Jalan Serayu Banyuwangi, timah bekas tersebut dikreasi menjadi metal jig (umpan pancing berbahan logam) warna-warni.
Metal jig made in Banyuwangi itu kini laris diburu oleh para pemancing dari berbagai daerah di Indonesia. Pelanggan umpan logam ini berasal dari Bali, Lombok, Surabaya, hingga Jakarta.
Tempat produksi atau bengkel metal jig rumahan itu berada di Gang Lombok, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro. ”Perintis awal adalah Karyono Kariyono alias Yono Bethuk. Saya hanya meneruskan setelah beliau meninggal dunia,” ujar Hanief
Usaha produksi metal jig itu, kata Hanief, berawal dari hobinya memancing. Dengan memanfaatkan timah bekas yang didapatkannya dari pedagang besi tua di wilayah Banyuwangi, dia mampu memproduksi sekitar 1.500 buah metal jig per bulan. Usahanya ini dimulai sejak tahun 2015 lalu. Kini, dirinya sudah banyak memenuhi permintaan pasar nasional maupun internasional.
Ide pembuatan metal jig rumahan ini, kata Hanief, muncul dari ide iseng Yono Bethuk yang kala itu menjadi pekerja bengkel di Banyuwangi. Dia kemudian mencoba membuat umpan pancing dari timah bekas yang dibuang di bengkel tempatnya bekerja. ”Awalnya dari iseng kemudian terus dikembangkan dan disempurnakan. Akhirnya jadi metal jig ini,” katanya.
Ternyata, prospek bisnis umpan pancing cukup menjanjikan. Hingga kini produksi metal jig berbentuk ikan dan cumi dengan berbagai ukuran masih terus jalan dan banyak diburu masyarakat. Tidak hanya warga Banyuwangi melainkan juga warga dari berbagai daerah.
Setiap bulan, rata-rata memproduksi 500 unit metal jig beragam ukuran. Ukuran terkecil seberat 40 gram hingga ukuran paling besar dengan berat 600 gram alias 6 ons. Untuk memproduksi 500 unit umpan metal jig, membutuhkan 100 kilogram (kg) bahan baku seharga Rp 2,2 juta. Selain timah, dia juga membutuhkan sejumlah bahan baku lain, seperti cat mobil, stiker, hingga bubuk fosfor. Dengan bubuk fosfor tersebut, umpan pancing mampu memancarkan cahaya di dalam air.
Setelah jadi, umpan-umpan pancing itu dijual dengan harga bervariasi antara Rp 25 ribu hingga Rp 80 ribu per unit. Harga banderol itu pun tergantung ukuran metal jig. Umpan pancing metal jig kreasi warga Bumi Blambangan ini telah dipasarkan ke berbagai daerah di tanah air. Selain melayani pesanan toko di Surabaya, Bali, umpan yang diberi brand ”Necker Jig” tersebut juga dijual secara online melalui media sosial. ”Alhamdulillah, selama pandemi dan hingga kini pesanan metal jig ini masih terus berjalan,” tandasnya.
Editor : Ali Sodiqin