Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gelang Galih Asem; Dulu Jadi Warangka Keris, Kini Jadi Aksesori

Ali Sodiqin • Senin, 15 November 2021 | 17:05 WIB
gelang-galih-asem-dulu-jadi-warangka-keris-kini-jadi-aksesori
gelang-galih-asem-dulu-jadi-warangka-keris-kini-jadi-aksesori


GELANG hitam dari kayu galih asem ini kini mulai digemari. Siapa sangka, di zaman dulu, jenis kayu tersebut sering digunakan sebagai warangka (gagang) keris pusaka.



Pohon asam jawa atau Tamarindus indica merupakan salah satu tanaman yang berasal dari Afrika. Nama asam jawa sendiri merupakan sebutan dari orang-orang Melayu, karena buah asam ini banyak digunakan sebagai bumbu masakan Jawa.



Asam jawa adalah pohon berperawakan besar, daunnya selalu hijau karena tidak mengalami masa gugur daun. Tinggi pohon dapat mencapai hingga 30 meter dengan diameter pada pangkal pohon dapat mencapai 2 meter. Kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan, kasar, dan memecah serta beralur-alur vertikal. Buahnya berasa asam dan sering digunakan sebagai bumbu masakan atau minuman.



Kayu asam jawa berwarna merah kecokelatan. Sifatnya berat, keras, padat, awet, dan miliki tekstur halus. Kayu ini biasa dipakai sebagai bahan baku mebel, patung, atau pun ukir-ukiran. Pohon asam jawa pada umumnya dimanfaatkan sebagai pohon peneduh yang ditanam di tepi jalan.



Namun di sisi lain, kayu asam jawa merupakan salah satu jenis kayu yang dianggap bertuah bagi masyarakat tertentu, khususnya masyarakat Jawa. Bagian hitam kayu kerasnya disebut galih asam, yang dianggap bertuah untuk keselamatan, untuk menolak jin jahat dan menolak tenung.



Maklum, konon di era kerajaan, pohon galih asam ini biasa dicari sebagai bahan baku untuk membuat ”pusaka”. Misalnya warangka keris, tongkat, dan pusaka lainnya yang dikonotasikan sebagai ageman (pegangan) para pemimpin. Bahkan, kini kayu jenis galih asam ini juga dijadikan sebagai tongkat komando para pejabat di kepolisian dan TNI. ”Pusaka yang terbuat dari galih asam dianggap memiliki tuah tertentu, dan dianggap hanya cocok dipakai oleh pemimpin yang berhati satriya pandhita,” ujar Joko Lelono, seorang spiritual asal Kecamatan Muncar, Banyuwangi.



Menurut Joko, galih asem adalah bagian tengah dari batang pohon asam yang sudah berusia ratusan tahun. Sehingga teksturnya sangat keras berwarna hitam legam. Bagian galih asem inilah, yang dinilai memiliki tuah atau khasiat yang mampu melumpuhkan kekuatan atau kesaktian lawan.



Tak heran, jika zaman kerajaan, kayu galih asem ini kerap dijadikan sebagai pegangan atau gagang pusaka hingga jadi warangka keris. Selain warna kayunya yang bagus, juga berfungsi memperkuat energi keris. ”Konon seseorang yang memiliki ilmu hitam jika dipukul dengan kayu galih asem ini kesaktian aliran hitamnya akan sirna,” jelas Joko.



Seiring perkembangan zaman, kini kayu galih asam justru dijadikan sebagai oleh-oleh buah tangan seperti tasbih dan gelang. Kayu galih asem sendiri memiliki warna alami yang hitam legam dan corak yang sangat menarik jika dibuat menjadi gelang, kalung, maupun tasbih.



Di sisi lain, lanjut Joko tanaman asam jawa memiliki filosofi yang cukup dalam khususnya masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kata asam atau asem berasal dari kata nengsem yang berarti menyenangkan. Daun pohon asam dalam bahasa Jawa disebut dengan sinom, yang dapat diartikan enom yang berarti muda. Karena itu, pohon asam jawa bagi masyarakat Jawa melambangkan masa muda yang menyenangkan. 


Editor : Ali Sodiqin